Cobaan Dari Tuhan

Standard

“Cobaan dari tuhan itu gak melampaui kekuatan manusia” tertulis di alkitab dan quran. Ini menarik untuk dibahas.

Buat saya itu bukan wahyu ilahi, cuma ngandelin psikologi atau perilaku manusia yang bisa beradaptasi. Kalo standar atau bar-nya udah di-set rendah, manusia punya kemampuan mengagumkan. Mulai dari hidup di kutub sampe di gurun pasir. Kalo pun akhirnya mati, ayat tersebut bisa dijadiin justifikasi: “ini bukan cobaan buat yang sudah pergi, tapi buat keluarga yang ditinggalkan.”

Gimana kalau gak ada keluarga? Gampang, tinggal twist dikit: “ini bukan cobaan buat beliau, tapi buat kita sahabat-sahabatnya untuk mau belajar.”

Jadi ayat tersebut “benar”: Kalo pun si manusia mati karena “cobaan” tersebut di luar kekuatannya, tetap bisa jadi cobaan (baca:pembelajaran) buat yang lain :) Win-win solution buat agama, walaupun resikonya adalah membodohi umat. Tanpa berpikir kritis, umat akan tetap percaya bahwa nasihat-nasihat seperti ini adalah ilahi.

Compiled by: Kal Festino (twitter @kalfestino) | http://kalfestino.wordpress.com/

Advertisements

Ucapan Syukur Ateis

Standard

Menjawab isu apakah ateis gak pernah merasa bersyukur:

Sebagai ateis, ucapan syukur saya adalah ke orang tua yang menjalankan fungsi mereka untuk membesarkan saya.

Sebagai ateis, ucapan syukur saya adalah ke saudara-saudara dan sahabat-sahabat saya karena mereka menjalankan fungsi mereka sebagai saudara dan sahabat.

Sebagai ateis, ucapan syukur saya adalah ke para petani dan peternak yang sudah menjalankan fungsi mereka supaya kehidupan berlangsung baik.

Tapi bagaimana saya mengucap syukur kepada tuhan jika tuhan tersebut tidak menjalankan fungsinya dengan baik? Mana yang Anda mau saya pilih? Percaya bahwa tuhan gagal, atau tidak percaya bahwa tuhan ada? Demi menghormati konsep tuhan, akhirnya saya lebih memilih tuhan tidak ada daripada percaya kepada tuhan yang gagal.

Kalo Anda mengucap syukur ke tuhan karena hidup Anda baik, itu artinya Anda egois. Anda tidak peduli dengan hidup orang-orang yang menderita. Kalo Anda melihat jutaan yang menderita atau mati setiap hari, Anda pasti akan berhenti bersyukur ke tuhan. Setidaknya untuk mulai merenung. Berdirilah di samping orang-orang yang meregang nyawa pdhl tidak bersalah, acungkan jari tengah Anda ke langit dan teriak “FUCK YOU, god!” Dan setelah itu Anda akan berhenti untuk bertanya kenapa tuhan gagal. Kebenaran itu akan membebaskan anda.

Itu yang saya lakukan sekitar 10 taun lalu. Cukup sudah untuk percaya bahwa manusia yang selalu disalahkan dan si “tuhan” selalu imun dari salah. Lihat sekelilingmu, jangan buta. Konsep agama membuatmu dungu. Tidak ada bedanya tuhan dengan paus pemimpin katolik yang dipercaya infallible. Dungunya kamu percaya tuhan immune dari salah sama seperti dungunya umat katolik percaya paus tidak salah walaupun anak-anak kecil di gereja disodomi.

Jangan bilang ke saya paus tidak salah, yang salah para pastor dan uskup. Paus bersalah karena punya kuasa untuk menghentikan itu terjadi. Begitu juga tuhan. Kelaparan, perang, kemiskinan terjadi dan tuhan dibela, tiba-tiba tuhan jadi tidak maha kuasa? Justifikasi kelas berat. Agama dan tuhan itu seperti abusive relationship, apapun yang terjadi, pihak yang inferior yang harus nanggung salahnya. Sampe kapan mau di-abuse?

Ketika kuasa tuhan melampaui free will: wow, alahuakbar! Ketika tuhan diem: itu salah loe, bro! –> Justifikasi kelas berat.

Ketika hidup elo baek: alhamdulilah. Ketika orang-orang mati: pasti salah manusia. –> Kasian, diabuse agama tetep gak sadar.

Yang pernah diabuse sama pacarnya disalahin mulu tiap ada masalah pasti ngangguk-ngangguk :) Iya, agama seperti itu, abusive ke manusia.

Ngikutin kasus perkosaan di India akhir-akhir ini? Nih baca, korban perkosaannya disalahin: http://m.timesofindia.com/india/Delhi-gang-rape-victim-as-guilty-as-her-rapists-Asaram-Bapu-says/articleshow/17922913.cms

Gak beda sama kaum perempuan dalam Islam. Yang birahi kaum cowok, yang disuruh pake pakaian tertutup malah kaum wanita. Sama seperti temen saya yang katolik, dia pernah bilang mungkin karena anak-anak kecil itu emang godain pastur-pastur. Udah gila apa ya?!

Semua kasus tersebut paralel dengan agama-agama yang melindungi kitab dan konsep tuhan mereka. yang salah pasti manusia, bukan tuhan/kitab suci.

Compiled by: Kal Festino (twitter @kalfestino) | http://kalfestino.wordpress.com/

“kita dizolimi, mari zolimi balik”

Standard

Ajaran “kita dizolimi, mari zolimi balik” sudah ada sejak jaman Israel kuno: http://alkitab.sabda.org/passage.php?passage=deuteronomy%2013:%206-10

Padahal sejarah Israel kuno kita tau sendiri, penuh agresi. Menyerang dan menaklukkan bangsa-bangsa lain di sekitarnya. Kristen juga sama; menginjili dan jadiin bangsa-bangsa lain “murid-Ku.” Lalu mengharap orang diam aja? http://alkitab.sabda.org/verse.php?book=Mat&chapter=28&verse=19

Orang menolak diserang, dipaksa syariah, diinjili, dikatakan kafir, diteriaki pake toa, lalu Anda mengharap orang tidak bereaksi? Lalu ketika orang bereaksi, nabi Anda meyakinkan Anda “karena Anda mukmin/beriman/orang pilihan/bangsa terpilih, makanya banyak yang benci!”

Orang rusuhin Anda balik karena ajaran agama-agama Anda yang rusuh, bukan karena iman anda. Peduli amat Anda mau beriman ke siapa. Anda menginjili, syiar, maen paksa, trus ketika orang bereaksi, Anda mengira itu terjadi karena Anda adalah mukmin atau umat allah? Anda SAKIT.

Compiled by: Kal Festino (twitter @kalfestino) | http://kalfestino.wordpress.com/

Agamaku dan Agamamu

Standard

Agama ajarin untuk kepo, rusuh dan maksa-maksa orang. Begitu dirusuhin balik, ujung-ujungnya bilang “agamamu bagimu agamaku bagiku. ” :)

Kristen juga mirip islam, walaupun gak ekstrim. Bilangnya lalang dan gandum dibiarin tumbuh bareng, tapi penginjilan jadi amanat agung. Di alkitab yesus bilang biarin lalang dan gandum tumbuh bareng tapi pada saat yang sama si yesus sebarin pestisida anti lalang. #jesuslogic

You can’t beat the way middle east people sell their religions. You just can’t :)

“Bagiku agamaku, bagimu agamamu”, harus ditelaah dulu, apa yang dimaksud dari “agamamu” dan “agamaku”. Kenapa dengan ayat itu justru, kenyataannya islam tidak bisa mendatangkan kebaikan bagi yang lain? Karena yang dimaksud dengan “agamaku” adalah agama yang tidak menghargai kebebasan seseorang untuk memilih kepercayaannya.

“Agamaku” adalah agama yang tidak mengenal kesetaraan.

“Agamaku” adalah agama yang menghukum mati siapapun yang memilih untuk keluar dari agamanya.

“Agamaku” adalah agama yang mendiskriminasikan yang lain berdasarkan gender.

“Agamaku” adalah agama yang memperbolehkan pembunuhan atas nama allah dan nabinya.

“Agamaku” adalah agama yang tidak memperbolehkan adanya kebebasan berpendapat, termasuk kritik terhadapnya.

Maka daripada itu, “agamaku” adalah agama yang fasis. yang menganggap umatnya lebih superior dibandingkan yang lain. Dan “agamamu” hanyalah agama yang dianggap rendah dan disebut kafir.

Maka jelas, di sini bahwa “bagiku agamaku, bagimu agamamu” bukanlah sebuah ayat yang ingin mendatangkan kebaikan. Melainkan, membiarkan kebodohan merajalela dan menyuburkan kebencian di antara manusia.

Pertahankan saja pembodohan ini, tenggelamkan & butakan dirimu dalam aji-aji tuhan psikopat, sembahlah dia setiap jumat. Tapi, beda ceritanya, jika kamu mencintai kehidupan, dan menginginkan kebenaran. Kamu akan berdiri di tempat saya berdiri, melihat dari sudut pandang saya melihat, dan menentang apa yang saya tentang.

Compiled by: Kal Festino (twitter @kalfestino) | http://kalfestino.wordpress.com/

Akun pribadi!

Standard

Akun ini akun pribadi, bukan grup ato komunitas. Gue punya hak eksklusif atas akun ini.

Kasus 1: Ada orang buka organisasi, lengkap dengan sistem, pengurus, administrasi, dan keanggotaan. Meski sebagai pemilik, dia harus memikirkan kepentingan anggota organisasi secara keseluruhan kalo mau terus jalan.

Kasus 2: Ada orang ngadain party open house di rumahnya sendiri. Yang mau dateng silakan, yang gak mau juga gpp.

Si empunya rumah berhak ngundang siapapun yang dia mau, dan berhak ngusir siapapun yang dia mau. Wong rumahnya sendiri kok. Akun ini adalah rumah gue. Tempat gue nyantai, marah, curcol, becanda, ngeyel, nyinyir, siapa bisa larang?

Siapapun boleh dateng, gue terima dengan santai. Tapi masa lu dateng ke rumah gue terus ngacak-ngacak dan teriak-teriak annoying? Dan ketika gue omelin lu dan usir lu keluar, lu bilang gue menzolimi, lalim, jahat, sama lu. Dafuq, dude?

 

Compiled by: Kal Festino (twitter @kalfestino) | http://kalfestino.wordpress.com/

Dilema Doktrin Kesempurnaan Islam

Standard

Ada dilema antara sesama muslim mengenai doktrin agama mereka soal “Islam adalah agama yang sempurna.” Dilemanya begini:

  1. Kalo islam adalah agama yang sempurna, sementara hanya tuhan yang sempurna, berarti menduakan tuhan. Sementara..
  2. Kalo islam bukan agama yang sempurna, artinya agama tersebut ada kekurangannya, alias ada yang cacat/salah di dalamnya.

Dilema tersebut jadi paradoks, sehingga jika Anda tanya ke pemimpin-pemimpin islam, Anda akan mendapatkan jawaban (baca: justifikasi) yang berbeda-beda.

”…Kusempurnakan untukmu agamamu, & telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu” (QS. Al-Maaidah :3)

Doktrin islam adalah agama yang sempurna didasari oleh ayat tersebut yang tadi saya twitkan. Muslim akan kesulitan menjawab kalo ditanya apakah islam agama yang sempurna. Bilang iya, kena no.1, bilang tidak kena no.2. Analogi siswa dan mahasiswa itu sering saya dengar. Perbandingan keliru jika dibandingkan sempurna dan maha sempurna. Bukan jeruk ke jeruk. Kalo di atas sempurna ada lagi tingkatan (maha sempurna) ya berarti sempurnanya gak sempurna dong? XD

Sempurna itu sendiri sudah tanpa cacat. Memberikan kata maha di depannya hanya menjadikan maknanya jadi redundant (berlebihan).

“Gimana dengan siswa dan mahasiswa?”

Siswa itu jauh dari dan beda dengan sempurna. Makanya dinamakan siswa (murid). Tidak bisa dibandingkan dengan sempurna.

Kata sempurna itu berkarakter mirip dengan kata kekal. Sudah mentok di situ, redundant jika diberikan kata maha, sangat, amat untuk menyertainya. Sampe sekarang saya masih senyum-senyum geli tiap kali liat perdebatan antara sesama muslim mengenai doktrin “islam agama yang sempurna”.

Menurut kbbi http://bahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/index.php arti kata sempurna adalah: utuh, lengkap, komplit, terbaik. Nah kalo udah terbaik, komplit, utuh, buat apalagi ditambahi maha, sangat, amat? Seperti yang saya bilang, jadinya redundant.

Compiled by: Kal Festino (twitter @kalfestino) | http://kalfestino.wordpress.com/

Konstruksi Sosial (Social Construct)

Standard

Banyak teis sering pake argumen yang gunain udara, emosi, dan semua hal yang gak keliatan untuk memvalidasi iman mereka.

Padahal kalau mau belajar social construct atau konstruksi sosial (#ks), argumen tersebut seharusnya udah mentah di awal diskusi.

#KS adalah teori yang dibangun berdasarkan observasi bahwa aspek-aspek di kehidupan kita adalah persetujuan atau konsekuensi kolektif. Kolektif artinya ide-ide tersebut atas persetujuan bersama. Kalo sering nonton Big Bang Theory, karakter Sheldon di situ suka bilang “social convention“, artinya paralel.

Contoh #ks itu ada banyak di sekitar kita, mulai dari air, uang, negara, batas negara, bahkan nama Anda sendiri. Penamaan benda-benda merupakan persetujuan bersama, #ks, seperti nama anda, yang diberikan, disepakati ortu Anda dan jadi nama legal. Seperti yang pernah saya bahas dulu soal nomenclature; manusia menamakan benda-benda dan hal-hal di sekitarnya.

#KS juga melihat bagaimana hal-hal invaluable jadi ada value karena PERSEPSI kita, seperti kertas: uang, akta lahir, bahkan ijazah atau KTP ;)

Tidak hanya itu, #KS juga melihat hal-hal abstrak bisa menjadi bermakna karena persetujuan KOLEKTIF, seperti negara, batas negara, bahkan… tuhan. Hal-hal abstrak tersebut bukan ada dengan sendirinya, tapi di-ada-kan. untuk kepentingan bersama pada waktu yang sama. Sekolompok orang membentuk desa, kota, perlahan menjadi negara. Dan pemimpin-pemimpinnya menentukan batas negara, berunding dengan negara-negara lain. Seperti kerajaan, negara bisa dibentuk, bisa juga runtuh. Wajar. Tidak ada lagi kepentingan bersama yang mengikat.

Begitu juga agama. Dengan adanya konsep 2500 lebih deiti, dewa dan tuhan, yang datang dan musnah dalam peradaban manusia, #ks semakin nyata. Jadi ketika Anda membawa-bawa tuhan dalam argumen, Anda sebenarnya hanya mengajukan satu konsep dalam teori #ks. Sama seperti ketika orang jatuh cinta. Buat Anda mungkin itu cinta, terasa nyata. Buat yang lain itu adalah kerja hormon, syaraf dan otak.

Pelabelan dan penamaan akan sesuatu hal akhirnya membuat orang bertanya. Kalo begitu, bagaimana dengan tuhan?

Apakah tuhan adalah apa yang Anda labelkan ketika Anda menangis atau bahagia ketika sedang berdoa dan puasa?

Apakah tuhan adalah hasil validasi akan sesuatu yang ingin Anda pegang dan percayai supaya tidak takut atau bimbang?

Ataukah tuhan adalah ketika seseorang meyakinkan Anda dengan kata-katanya yang diklaim berdasarkan wahyu ilahi?

Ataukah tuhan adalah justifikasi Anda ketika Anda tidak mampu merunut dan menjelaskan kejadian-kejadian yang sepertinya di luar logika anda?

Apapun itu, tuhan adalah hasil konstruksi sosial karena disepakati bersama. Definisi yang tidak datang dari langit, tapi dari manusia. Apapun itu, agama/tuhan Anda akhirnya akan berakhir seperti kerajaan-kerajaan, agama-agama, dan tuhan-tuhan yang sekarang hanya eksis di catatan sejarah.

Sumber:

1. http://oakes.ucsc.edu/academics/Core%20Course/oakes-core-awards-2012/laura-flores.html

2. http://www.smithsonianmag.com/science-nature/Why-Time-is-a-Social-Construct-183823151.html

3. http://www.academia.edu/1964384/The_Social_Construction_of_Religion_and_Its_Limits_A_Critical_Reading_of_Timothy_Fitzgerald

4. http://ebooks.cambridge.org/chapter.jsf?bid=CBO9780511612718&cid=CBO9780511612718A058

 

Compiled by: Kal Festino (twitter @kalfestino) | http://kalfestino.wordpress.com/