Agamaku dan Agamamu

Standard

Agama ajarin untuk kepo, rusuh dan maksa-maksa orang. Begitu dirusuhin balik, ujung-ujungnya bilang “agamamu bagimu agamaku bagiku. ” :)

Kristen juga mirip islam, walaupun gak ekstrim. Bilangnya lalang dan gandum dibiarin tumbuh bareng, tapi penginjilan jadi amanat agung. Di alkitab yesus bilang biarin lalang dan gandum tumbuh bareng tapi pada saat yang sama si yesus sebarin pestisida anti lalang. #jesuslogic

You can’t beat the way middle east people sell their religions. You just can’t :)

“Bagiku agamaku, bagimu agamamu”, harus ditelaah dulu, apa yang dimaksud dari “agamamu” dan “agamaku”. Kenapa dengan ayat itu justru, kenyataannya islam tidak bisa mendatangkan kebaikan bagi yang lain? Karena yang dimaksud dengan “agamaku” adalah agama yang tidak menghargai kebebasan seseorang untuk memilih kepercayaannya.

“Agamaku” adalah agama yang tidak mengenal kesetaraan.

“Agamaku” adalah agama yang menghukum mati siapapun yang memilih untuk keluar dari agamanya.

“Agamaku” adalah agama yang mendiskriminasikan yang lain berdasarkan gender.

“Agamaku” adalah agama yang memperbolehkan pembunuhan atas nama allah dan nabinya.

“Agamaku” adalah agama yang tidak memperbolehkan adanya kebebasan berpendapat, termasuk kritik terhadapnya.

Maka daripada itu, “agamaku” adalah agama yang fasis. yang menganggap umatnya lebih superior dibandingkan yang lain. Dan “agamamu” hanyalah agama yang dianggap rendah dan disebut kafir.

Maka jelas, di sini bahwa “bagiku agamaku, bagimu agamamu” bukanlah sebuah ayat yang ingin mendatangkan kebaikan. Melainkan, membiarkan kebodohan merajalela dan menyuburkan kebencian di antara manusia.

Pertahankan saja pembodohan ini, tenggelamkan & butakan dirimu dalam aji-aji tuhan psikopat, sembahlah dia setiap jumat. Tapi, beda ceritanya, jika kamu mencintai kehidupan, dan menginginkan kebenaran. Kamu akan berdiri di tempat saya berdiri, melihat dari sudut pandang saya melihat, dan menentang apa yang saya tentang.

Compiled by: Kal Festino (twitter @kalfestino) | http://kalfestino.wordpress.com/

(Bukan) Fatwa Ateis

Standard

Gue pengen cerita sedikit.. Jadi waktu itu gue pernah ketemu sama satu bocah yang ngaku ateis, dan gue tanya kenapa dia jadi ateis. Jawabannya tipikal alay yang gak ngerti apa-apa, cuma “Yah gak masuk akal aja lah bro, tuhan gak keliatan, blablabla..”

Gue bilang sama dia, “Bro, kalo mau jadi ateis coba belajar dulu agama yang dalem dan ketahui dengan jelas apa yang loe tolak..” Emang sih, kepercayaan (atau ketidakpercayaan) adalah hak asasi manusia yang gak boleh diatur siapapun. Tapi prinsip gue, kalo lo ngelakuin sesuatu ya jangan nanggung-nanggung. Jangan jadi orang biasa yang cuma “tau” doang.

Jangan ngaku kristen kalo gak tau proses kanonisasi dan asal muasal sejarahnya kenapa elo bisa jadi kristen hari ini.

Jangan ngaku islam kalo lo gak tau gimana proses terjadinya islam dan sejarah yang akhirnya bikin lo jadi muslim sekarang.

Jangan ngaku kristen kalo lo gak tau bahwa ritual kebaktian yang lo lakuin tiap minggu itu adalah adaptasi dari budaya pagan romawi.

Jangan ngaku islam kalo gak tau bahwa sunat dan puasa itu adaptasi dari judaisme. Titit lo dipotong tapi lo gak tau kenapa.

Jangan ngaku ateis kalo cuma gara-gara tuhan gak keliatan dan empet sama kelakuan umat beragama. Gak ngerti apa yang lo tolak.

Jangan ngaku ateis kalo lo sebenernya cuma gak religius dan gak peduli aja sama agama dan tetek bengeknya, yang penting hepi.

Jangan ngaku ateis kalo lo sebenernya cuma hedonis.

Anyway, ini cuma opini dan prinsip gue pribadi. Bukan doktrin, apalagi fatwa ateis :))

Istilahnya kayak lo belajar gitar mati-matian, sampe jago dan ngelesin orang. Eh ada alay cuma bisa kunci G udah begaya kayak rockstar. Apa gak pengen lo cute (cubit tete) tuh alay?

 

Compiled by: Kal Festino (twitter @kalfestino) | http://kalfestino.wordpress.com/

Agama Gue Dulu?

Standard

Menjawab pertanyaan apakah agama saya yang dulu teis tapi sekarang ateis:

Gue gak akan jawab agama gue dulu apa, tapi gue akan kasitau kenapa gue gak mau jawab agama gue dulu apa. Deal? :D

Kenapa gue gak mau kasitau agama gue dulu apa? Karena pertama: itu gak penting, cuy. Kedua: itu bikin justifikasi teis.

Kalo gue ngaku dulu kristen, yang islam pasti sorak sorai dan makin hepi memaki: tuh kan, gue dah tau, pasti kristen. Cih!

Kalo gue ngaku islam, yang kristen hepi dan yang islam bilang: ah, pasti dulunya gak belajar dalem soal islam. Murtad!

Kalo gue ngaku buddha/hindu, yang kristen dan islam sama-sama bilang: ah tau apa lu soal agama gue? Agama lu aja gak jelas tuhannya.

Kalo agama di KTP gue malah jadi bahan trolling, buat apa gue jawab? Hak lu untuk nanya, hak gue juga untuk gak jawab.

Buat gue pribadi aja agama gue dulu udah jadi relik, cuma kenangan manis. Kayak foto mantan di laci yang berdebu gak pernah dibuka. Kenapa buat lu agama gue dulu kok jadi penting amat? Buat apa? Supaya bisa ad hominem? Bawa-bawa mayoritas vs minoritas?

Compiled by: Kal Festino (twitter @kalfestino) | http://kalfestino.wordpress.com/

Konsekuensi Anonim

Standard

Saya bersyukur kepada Tim Berners Lee SAW, sang pencipta WWW, sekarang gak perlu naro nyawa buat keluarin pendapat, paling kena suspend :D

Saya panjatkan puji dan sembah untuk Jack Dorsey, sang pencetus twitter, perubahan bisa terjadi karena 140 karakter :)

Kalau kamu mau vokal dan frontal di indonesia, SEHARUSNYA SIAP SAMA KONSEKUENSINYA. ini negara mafia, mob mentality jadi tren. Kalau gak, yah ambil jalur anonim, jangan ego dikipas-kipas sampe otaknya gak dipake.

Don’t get me wrong, ideally gue gak setuju Aan dipenjara. But at the same time, gue kesel liat kelakuannya yang gak pake otak. Juga dosen aceh yang dengan tololnya pasang status FB dukung israel. Udah tahu punya keluarga dan HIDUP DI ACEH. Minta bunuh diri?

So, kalau kamu gak siap sama konsekuensi, jadi anonim!

Cukup pendapatmu saja yang eksis, egomu gak perlu ikut. Musti ingetin terus di kepala, ini negara mayoritas orang bego yang keracunan agama. Orang pinter dianggap sesat dan dirajam. Negara yang kelamaan dibegoin dan dijajah, dari jaman belanda, jepang, orba, dan sekarang, sampe gak ngerti apa itu KEBEBASAN. Negara yang kelamaan dicekokin sama penguasanya, sampe orang yang ngajarin gimana caranya cari makan sendiri malah dibantai. Bangsa yang ratusan taun diperkacung oleh belanda, jepang, orba, pemerintah, dan agama. Gak bisa berdiri dengan kaki sendiri.

Compiled by: Kal Festino (twitter @kalfestino) | http://kalfestino.wordpress.com/

Kemajuan Zaman Dan Relevansi Agama

Standard

Piers Morgan bilang alkitab dan konstitusi perlu diamdemen karena cacat: http://www.dailymail.co.uk/news/article-2253902/Now-Piers-Morgan-says-Bible-flawed.html Kapan ada di Indonesia? :)

Kaya kemaren yang gue bilang soal konstitusi dan pancasila. Buatan manusia. Jangan disakralin. Era Internet, kitab-kitab usang seperti alkitab dan quran, perlu ditaroh di tempat semestinya: gak usah dibakar atau dimusnahkan, tapi diperlakukan sebagai buku-buku yang flawed (cacat). Nyatanya kemajuan sains dan teknologi gak pake kitab usang seperti alquran, alkitab dan landasan seperti pancasila.

10-20 taun lagi smartphone yang elo pake sekarang bakal seperti itu, jadi barang usang. Elo masih tetep mau pake?

Awal cerita amandemen alkitab itu karena perdebatan soal 2nd amendment di konstitusi amrik. 2nd amandment menjamin hak warga amriki membawa/memiliki senjata. Saat amendemen itu ditulis, mereka mungkin belom kebayang ada senjata yang bisa muntahin puluhan peluru dalam hitungan detik. Dulu jamannya senjata itu masih musket. Begitu selesai nembak, mesti bersihin laras, isi mesiu, baru bisa nembak lagi. Masih belum canggih seperti sekarang.

Yang pro gun biasanya pake analogi mobil. “Kalo senjata dilarang, kenapa mobil gak? Mobil terbukti ngebunuh banyak orang.” Tapi analogi tersebut yah akhirnya flawed by function. Fungsi senjata beda dengan mobil. Tujuannya apalagi. Kaum fundamentalis kristen dan pro konstitusi lebih edan lagi. Solusi mereka untuk crime by gun ini adalah: more guns!

Lagi-lagi beranalogi, mereka bilang liat amrik vs USSR dengan senjata-senjata nuklir mereka, more nuclear weapons on each side, buktinya gak ada serangan nuklir. Tapi apa bisa nyamain guns dengan nuklir? Belum lagi dari jaman presiden Reagan, their beloved president, ada usaha-usaha mengurangi nuklir.

Ketika realita jaman memperlihatkan banyak rugi daripada untungnya, masih ada aja orang-orang yang terjebak romantisme masa lalu. Romantisme masa lalu lewat buku-buku usang seperti doktrin dalam konstitusi dan kitab-kitab yang dianggap suci. Tetap gak mau move on. Belum lagi ditambah data yang menunjukkan jumlah gun victims di negara-negara maju, amrik paling tinggi.

Pro konstitusi dan fundamentalis kristen di amrik berada di tenda yang sama: Republican party. Yah ibaratnya PKS, PPP gabung sama PDIP & Gerindra dalam satu partai. yang beda bisa dicap anti nasionalis dan anti agama XD

Perdebatan gun policy ini sudah ada bertaun-taun di amrik, dan saya ga bakal kaget kalo ternyata tidak akan ada solusinya. Belum lagi ditambah doomsday apocalypse yang mistis dan mitos, tapi sangat digandrungi (baca: dipercaya) di amrik. Ketakutan masyarakat amrik kalo suatu saat pemerintahnya jadi fasis, ambil senjata mereka, dan memulai kiamat global alias akhir jaman. Padahal di sejarah amrik, apa ada presidennya jadi tiran, berkuasa seumur hidup? Paling parah cuma civil war. Itulah yang timbul kalo masyarakat dicekokin sama hal-hal yang mistis dan mitos seperti dari ajaran-ajaran alkitab. More and more gun victims, but still paranoid.

@violentlypeace @Agamajinasi liat borobudur, pyramid. dihasilkan tanpa sains. matematika dalam arsitektur blm benar2 dipakai. hargai saja pendahulu kita.

Klaim dulu, baru cari bukti belakangan. #logikatheis

Awalnya piramid itu dari kuburan biasa. Lalu ditumpuk. Bahasa mesirnya: mastaba. Pertama ditumpuk 6 mastaba, lalu lebih lagi dan lagi. Ngitung angkanya gimana kalo gak dari sains? Belum lagi ngitung batunya. Itu baru dari segi bangunan ya. Belum dari segi uang dan hubungannya sama bangunan-bangunan besar seperti piramid dan borobudur. Bikin bangunan gede gitu, butuh upahin pekerja. Kalo pun pake budak, kudu ada logistik untuk kasih makan mereka.

Apa gue menghargai kereta kuda? Jelas menghargai dalam kerangka sejarah. Tapi apa dengan itu gue ga bisa pake mobil? Jujur, apa elo menghargai smartphone? Jelas iya, karena elo pake. Tapi apa elo peduli siapa pencetus ide smartphone? Jelas gak. Dulu gue pernah tanya, siapa di sini yang masih pake nokia pisang? Nokia pisang loh ya, bukan nokia sejuta umat :) Nyatanya kan gak. Walaupun elo mungkin dulu pake nokia sejuta umat, bukan berarti elo selalu harus pake itu karena harus menghargai.

Begitu juga agama. Kalo udah gak mumpuni lagi dengan perubahan jaman, kenapa harus dipaksa untuk tetap dipake?

Compiled by: Kal Festino (twitter @kalfestino) | http://kalfestino.wordpress.com/

Non Overlapping Magisteria

Standard

Sebenernya simple, kalo teis mau mengakui bahwa kepercayaannya itu hanya berdasarkan RASA percaya saja, ya kasus selesai. Kalo teis mau mengakui bahwa kepercayaannya hanya berdasar emosi dan rasa hangat di hati, yasudah saya juga diem.

Tapi kan nggak gitu, teis NGOTOT mau masuk ke ranah sains, masuk ke ranah faktual dan logika, mengacak-acak realita. Ketika teis mulai mencampur adukan imajinasinya dengan fakta dan sains, di sini terjadi benturan. Saya jadi pengen noyor.

Ada istilah NOMA: Non Overlapping Magisteria. Agama dan sains itu dua hal yang gak bisa tumpang tindih dan disatukan. Saya lebih respect pada teis yang mengakui NOMA, “Ateis mungkin benar tapi saya percaya tuhan karena saya butuh untuk percaya..”

Kalo teis mengakui bahwa rasa percayanya hanya hal subyektif sama seperti kesukaannya pada es krim coklat, ya debat selesai. Tapi kalo masih mau ngotot mencoba membuktikan tuhan dan imannya lewat sains dan logika, oh ayo sini..

Compiled by: Kal Festino (twitter @kalfestino) | http://kalfestino.wordpress.com/

Chaos

Standard

Kamu pikir semesta ini bergerak secara teratur, padahal dalam skala kosmis, semesta ini adalah CHAOS, dalam rentang yang SANGAT LAMBAT. Para pesakitan god of the gaps ini, bilang awloh yang ngatur? Gimana kalo itu ternyata tuhannya paulus? Elu bakal ngapain? Penggunaan kata chaos secara sains itu gak menganulir deterministik karena masih di dalamnya. Sebuah perubahan kecil dalam sistem bisa memberikan hasil yang jauh berbeda, sehingga tidak bisa atau sangat sulit dikomputasi (chaos).

Kepakan kupu-kupu di jakarta bisa menimbulkan tornado di amerika, kira-kira gambaran keren dari efek chaos.. “butterfly effect” http://simple.wikipedia.org/wiki/Chaos_theory

Argumen God of the gaps, adalah sebuah science stopper. Gamblangnya: kemandegan. Ketika kamu mengisi tuhan dalam ketidaktahuanmu, maka kamu tidak akan bergerak lebih jauh. Kamu berhenti di sana. 3000 tahun yang lalu, orang yunani kuno percaya, petir dilempar oleh Zeus setelah ditempa oleh anaknya sendiri, Hephaestus. Kamu kurang canggih, kalau cuma pake 1 tuhan. Yunani kuno bukan cuma pake 1 tuhan, tapi 2 sekaligus di dalam “gap” tersebut.

Zeus dipercaya menyebabkan petir. Apollo menyebabkan matahari. Saat itu manusia di Yunani tidak mengerti, apa yang menyebabkan fenomena tersebut. Bayangkan kalau god of the gaps¬†itu dipertahankan sampai sekarang? Manusia cuma berhenti di Zeus dan Apollo. Sekarang kita tau, kenapa fenomena tersebut terjadi bukan? “Gap” dalam pengetahuan manusia, sudah tidak ada lagi, menghilangkan tuhan.

Ada ribuan mitos penciptaan. Dewa Rah salah satunya, ia menciptakan semesta dengan firman saja. Jika ada ribuan mitos penciptaan, gimana elu yakin kalo tuhan lu yang ciptain? Gimana kalo yang ciptain ternyata tuhannya agama tetangga? Dasar rasional, argumen lu, kalau semesta diciptain sama tuhan lu apa? Kitab lu? Itu hanya klaim. Yang diminta adalah bukti. Kalo misalnya tuhannya tetangga yang ciptain semesta, dan tuhan elu nggak ada, elu bakal ngapain kira kira?

Definisi chaos yang digunakan bukan kekacauan sederhana kayak lihat planet seperti bola biliar, nabrak satu sama lain :) Kata chaos digunakan dalam hubungannya dengan fenomena entropi. penyebaran panas yang tidak reversibel. Dalam penjelasan simpelnya, gak ada yang abadi. Bumi gak bakal selamanya mengitari matahari. Matahari tambah panas dan “meledak”. Kalau matahari gak ada, tata surya kita gak bakal teratur seperti dahulu. itu yang disebut chaos :) Habis itu, kiamat deh… tapi jangan takut, masih LAMAAA http://www.universetoday.com/11430/the-end-of-everything/

Note: skenario kiamat masih sebatas hipotesis. Jadi gak usah panik :D

Compiled by: Kal Festino (twitter @kalfestino) | http://kalfestino.wordpress.com/

Kehidupan Karena Kesempatan

Standard

Fine tuned universe, intelegent design, watchmaker analogy, antropi, potato poteto. Hal yang beda buat nekanin hal yang sama: Rancangan tuhan.

Ada dua posisi simpel dalam melihat dinamika semesta

  1. Dunia dirancang sedemikian rupa, agar kehidupan bisa ada (by design).
  2. Dunia berinteraksi dan menciptakan KESEMPATAN bagi kehidupan untuk ada (random).

Dalam observasi tebang pilih, muncul “ilusi” kalau dunia ini “sempurna”, semuanya “ditaruh pada tempatnya” untuk manusia. Ada air udara, buah-buahan binatang yang “disediakan” bagi manusia untuk hidup dan berkembang. Padahal kenyataannya, jaman dulu UDARA ADALAH RACUN bagi makhluk hidup, dan menyapu sebagian besar makhluk. Makhluk hidup sekarang adalah makhluk yang beradaptasi dengan lingkungannya. Logisnya manusia eksis KARENA ADA KESEMPATAN.

Kenapa sekarang kita berusaha keras ngurus lingkungan dan ributin global warming? Karena kita tahu KESEMPATAN HIDUP ITU BISA SIRNA. Bumi diciptakan sempurna sehingga jaraknya 148 juta dari matahari? Kenapa hanya bumi? Kenapa dari sebegitu banyak planet, baru hanya bumi yang masuk ke goldy lock zone? MENGAPAHHHH? #dramadikit

Apakah sang pencipta itu terbatas kayak thomas edison? Trial error berkali-kali sampe berhasil (di bumi)? Katanya maha kuasa? Kalaupun bumi jaraknya lebih dekat matahari, jika dalam zona hidup, akan muncul makhluk yang beradaptasi sama suhu tinggi. Saya ngayal? coba baca artikel ini http://news.nationalgeographic.com/news/2004/05/0521_040521_extremeheat.html

Dengan kata lain, semua fakta fakta yang kita miliki lebih condong ke posisi ke 2, hidup eksis KARENA KESEMPATAN.

Kehidupan begitu mempesona, membuai ego dan menciptakan fantasi murahan kalau manusia itu duduk di puncak eksistensi.

Realita semesta jauh lebih indah dan besar dari fantasi usangmu nak.

Kesempatan bisa eksis didalamnya saja sudah membuatmu jadi special.

Sekian berpuitis ria, mari kembali ke KESEMPATAN.

Adakah yang spesial dari kesempatan hidup? Probabilita munculnya eksistensi hidup sangat kecil, secara puitis itu bikin terlihat spesial, tapi tidak secara matematis. Biar mudah, mari kita bayangkan probabilita kesempatan hidup itu kayak kombinasi rangkaian kartu remi.

Dari 52 kartu remi, kamu disuruh ambil 4 kartu. Berapa besar probabilita kamu dapat rangkaian “sempurna” 4 AS?

THANK YOU BRO! #pusingngitung RT @SoundOfYogi 1/52 x 1/51 x 1/50 x 1/49 = 1.539 x 10 ^ -7

Kesempatan yang begitu kecil itu, bikin kamu ngayal kalau ini gak mungkin kebetulan. Padahal, secara matematis, rangkaian kartu yang lain memiliki nilai probabilita yang sama “spesial” nya dengan 4 AS :) Probabilita yang kecil, dikasih rentang waktu yang (sepertinya) infinite, secara logis akan tercapai :) Jadi kalau kamu ngecak kartu berjuta-juta tahun tanpa berenti, gak ada spesial-spesialnya nemuin rangkaian kartu 4 AS ini. Umur semesta ini tua bung, sangat tua. 2000 taon umur agamamu itu sekedip mata bagi semesta. Jadi kalau memaksa bertanya “siapa yang merancang”, jawabannya adalah infinity + probability.

Compiled by: Kal Festino (twitter @kalfestino) | http://kalfestino.wordpress.com/

Menjadi Ateis di Indonesia

Standard

Ada banyak diskusi antara sesama ateis tentang bagaimana memberi solusi kepada non theis seperti Anda yang masih muda @Asmaharu

Di satu sisi, banyak ateis mendukung pemikiran Anda yang udah gak sreg lagi dengan agama… @Asmaharu

Tapi di sisi lain, Anda masih muda. Masih tergantung dengan ortu soal sandang, pangan, papan, … @Asmaharu

Yang lebih pelik, seperti kasus anda, kalo ada ortu yang ngancam kalo anaknya gak mau nurutin kemauan mereka @Asmaharu

Jadi gimana? Sepertinya malah jadi simalakama. Jadi catch 22. Ke kiri salah, ke kanan salah… @Asmaharu

Buat Anda yang masih muda (tinggal sama ortu), ingat keputusan Anda jadi ateis adalah keputusan besar dan berjangka panjang. Buat long term plan, kapan Anda lulus, kapan Anda bisa cari kerja/usaha, kapan Anda kira-kira bisa mapan/settle. Liat diri Anda 5-10 taun dari sekarang, kira-kira Anda akan ada di mana, punya karir apa, punya usaha apa, bahkan tinggal di mana.

Kalo saya boleh kasih saran, selama Anda masih belum mandiri, ya jangan terang-terangan membantah agama yang dipeluk ortu Anda. Tangan Anda masih di bawah. Walaupun konsekuensinya seharusnya tidak seberat itu, tapi Anda pasti ngerti ortu Anda gimana.

Jadi apa harus munafik? Oh gak. Justru waktu yang kamu punya sampe akhirnya kamu mandiri, adalah kesempatan besar buat kamu. Kesempatan untuk baca buku-buku agama ortu kamu. Baca-baca soal apapun yang kamu mau tau tentang agama atau sains. Kuatkan pondasi kamu. Jadi ketika kamu mandiri, landasan kamu untuk “terbang” udah kuat. Worst comes to worst, kamu gak diaku anak pun udah kamu siapkan.

Saya gak pernah nyuruh orang untuk loncat dari pesawat kalo dia gak ada parasut. Itu bunuh diri namanya. Udah ada parasut pun kalo dia gak tau cara pakenya ya percuma. Harus tau dulu cara pakenya gimana. Takut? Wajar. Pertama kali pasti takut atau was-was. You’re not alone. We’ve been there, we’ve done that.

Kalo Anda merasa sendirian atau butuh teman ngobrol, silakan kirim email. Ada juga grup-grup ateis yang kadang kopdaran, bisa join. Jadi jangan males/takut dulu. Karena waktu Anda sampe bisa mandiri itu, walau lama, adalah investasi untuk masa depan Anda. Pelajari big bang sampe evolusi, sejarah agama-agama dan bangsa-bangsa. Tonton film-film yang berisi mitologi atau yang “out of the box“.

Compiled by: Kal Festino (twitter @kalfestino) | http://kalfestino.wordpress.com/