Kita Ada di Tengah Revolusi

Standard

Di negara maju, science & teknologi makin berorientasi pada kesejahteraan. Negara nggak banyak tingkah. Kontrol sosial ketat. Kita ini sebenarnya bergerak ke arah mana? Perubahan apa dulu yang ingin kita capai? Revolusi syariat islam? Atau yang mana? Revolusi, tidak bisa kita artikan sebagai riot/pemberontakan. Revolusi adalah sebuah perubahan system secara fundamental. Dan, revolusi (perubahan system) itu sedang berlangsung, secara konstan, tanpa henti, bahkan hari ini, detik ini

Bagaimana agama semakin kehilangan fanatismenya. Di eropa, makin hari makin kehilangan penganut kristen. Modernitas berbenturan sangat keras dengan islamisme (sumber terakhir yang keterlaluan kolot dan dungunya). Dan Indonesia akan berakhir seperti di Eropa pula, modernitas sudah jelas akan menang. Cepat atau lambat.

Kondisi materialnya tidak menentukan demikian. Islamisme ini harus ngalah. Nyesuaiin dirinya atau tergerus jaman. Kita tidak bisa berpegang teguh pada prinsip tololisme, kacungisme, goblokisme yang dipelihara dari generasi ke generasi. Setidaknya, ini yang dilihat oleh Luther dulu atau katolik belakangan ini.

Katolik di perancis mengakui, kalau mereka tertinggal 200 tahun. Vatikan mengakui, darwinisme tidak bisa dipersalahkan. Ada layer layer dalam masyarakat. Garis besarnya, ada base dan superstruktur. Base adalah kondisi material, bagaimana manusia beraktivitas ekonomi – secara fundamental. Sementara, superstruktur adalah akibat atau cerminan dari kondisi kondisi tersebut. Atas dasar dasar ini, superstruktur hanya akan berubah, kalau base sudah berubah. Memang, superstruktur selalu mengalami keterlambatan perubahan dibandingkan base. Karena ia cuma cerminan dari base. Kalau dalam skala mikro per individu, cara bergaul, bertindak, budaya, kebiasaan bergantung pada kondisi materialnya. Keterlambatan yang dimaksud tadi, kadang melihat orang dewasa yang tingkah lakunya masih kekanak-kanakan.

Hanya waktu yang menentukan. Niscaya tingkah lakunya menjadi lebih bijak sesuai kondisi materialnya. Revolusi adalah keadaan di mana ketegangan antara kondisi material & kondisi superstruktur sudah tidak dapat ditanggung lagi. Keadaan di mana kondisi superstruktur sudah sangat tidak cocok dengan kondisi materialnya. Akhirnya, superstruktur runtuh dan harus menyesuaikan diri lagi dengan kondisi material yang baru.

Seperti peristiwa mantan anak sma, yang bergaya anak sma, dengan kondisi material seorang mahasiswa. Yang pada akhirnya, gaya hidupnya harus patah dan berganti haluan menjadi layaknya mahasiswa dewasa. Itu revolusi.

Singkatnya, ketegangan antara modernitas dan ideologi kolot sedang terjadi.

Kita sedang berada di tengah-tengah revolusi.

2 thoughts on “Kita Ada di Tengah Revolusi

  1. altamarea

    Benar-benar.

    Realitanya di dunia ini, Islam itu the fastest growing religion, bareng dengan ‘religion’ yg lain yaitu ‘gak-punya-religion’. Semoga dunia Islam ikutan kena revolusi. Namun Islam sbg agama karena ngga punya pusat macam Vatican, cenderung mudah diinterpretasikan di layer bawah oleh siapapun. Aliran pun muncul di mana-mana karena mereka ga perlu mendobrak pusat. Walau bisa dibilang yg jadi ‘pusat semu’ adalah golongan mayoritas Sunni. Ini bisa jadi petaka bisa jadi pula berkah.

    Ah, konon Baghdad di era Islam adalah kota yang besar dan jadi pusat ilmu pengetahuan karena terbuka dengan berbagai pemikiran dari berbagai benua, sebelum akhirnya dihancurkan Mongol.

    Sekarang Islam, boro-boro terbuka, ngucapin Natal aja dibikin masalah internasional, teriak-teriak di sosmed sampai tegang. Beda aliran takfir-takfiran.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s