Perpuluhan

Standard

Konsep persepuluhan itu konsep yang katanya ilahi, tertulis di taurat, dan diaplikasiin di gereja-gereja (tertentu}. Tapi apa benar ilahi? Mari kita buka-bukaan, sekalian liat kelicikan gereja.

Konsep perpuluhan sebenarnya udah ada dari jaman Mesopotamia dan budaya politeisme mereka. Nama konsepnya? Masretu. Masretu adalah bagian dr sistem penyembahan dewa Shamash (matahari), salah satu ribuan dewa di sana. Masretu adalah perintah dewa Shamash, pengikut-pengikutnya diperintahkan untuk memberikan 1/10 hasil ladang dan ternak mereka. Konsep Masretu diadaptasi ke dalam taurat dengan ditambahi cerita-cerita soal mulai dari Abraham sampe perintah-perintah tuhan.

Gak ada yang salah dengan konsep flat rate tax seperti Masretu atau perpuluhan (bhs inggris: tithe). Semua bangsa purba punya sistemnya masing-masing. Masretu, persepuluhan, tithe, ma’aser, bahkan zakat, apapun namanya, sebenarnya adalah sistem pajak. Yang salah adalah sistem tersebut dipaksakan supaya orang-orang taat yaitu dengan memakai konsep tuhan biar orang-orang tersebut takut.

Nah, sekarang ma’aser (aser: sepuluh – bahasa ibrani) atau persepuluhan dalam taurat itu sebenarnya fungsinya apa? Kalo mau baca seluruh sistem ma’aser dalam taurat, akan jelas bahwa fokusnya adalah para imam dan orang-orang miskin. Tapi dalam gereja-gereja, yang dikutip itu cuma sebagian ayat-ayat, yang menguntungkan para pendetanya secara finansial. Seperti fungsi pajak, ma’aser berfungsi untuk menolong orang-orang miskin supaya bisa makan (welfare). Dalam taurat, hal tersebut diatur jelas. Hasil ma’aser seluruh bangsa Israel dikumpulkan dan dibagikan ke orang-orang miskin. Dulu yang pernah saya bahas, konsep perpuluhan atau zakat itu udah gak berlaku lagi di negara seperti Indonesia. Konsep tersebut hanya berlaku di jaman teokrasi, bukan di jaman multikultur, heterogen dan sekuler seperti sekarang. Bayangkan negara udah punya sistem pajak, lalu ada grup-grup di dalamnya yang perpuluhan juga. Itu namanya dipajakin dobel!

Jadi selain penerapannya ngaco di dalam gereja-gereja, sistem perpuluhan juga udah outdated dan jauh dari konsep ilahi. Gak beda sama Yahudi yang kopas masretu dari Mesopotamia terus ganti jadi perpuluhan/ma’aser.

2 thoughts on “Perpuluhan

  1. Melissa

    Kalau menurut saya, pajak tidak bisa kita rasakan secara langsung manfaatnya. Tapi kalau perpuluhan atau zakat yang diberikan secara langsung. Kalau saya mungkin akan memilih secara langsung memberikan perpuluhan ke masyarakat miskin atau panti-panti sosial daripada ke gereja. karena kalau diberikan ke gereja yang menikmati adalah para pendeta, majelis gereja yang sudah dianggap mampu secara ekonomi.
    By the way, saya senang dengan tulisan Anda, mengkritik perpuluhan di dalam gereja. Karena ga jelas. Sepemahaman saya perpuluhan itu untuk jemaat yang membutuhkan bantuan terutama secara ekonomi, tapi banyak gereja yang tidak memahami tujuan dari perpuluhan. Membaca firman Tuhan hanya sepenggal saja. Terima kasih. Mudah2an kita bisa berbagi informasi untuk membantu yang susah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s