As Calm As Hindu Cows

Standard

If you treat your religion, as calm as hindu cows. You won’t need to hear people curse your religion.

Advertisements

Apa Bener Keywordnya?

Standard

Orang kristen sering bangga, nunjukin beberapa research soal orang-orang yang pergi ke gereja lebih bahagia daripada yang gak. Tapi apa bener keywordnya “gereja”? Tentu gak. Siapapun yang sering ngumpul bareng sama orang lain lebih bahagia daripada yang gak. Makanya sering dibilang “humans are herd animals.” Manusia umumnya demen nongkrong, ada collective values (positif), ada juga peer pressure (negatif).

Begitu juga soal berdoa. Orang jadi tenang setelah berdoa BUKAN bukti kalo:

1. doa itu manjur, atau

2. tuhan itu eksis, atau

3. agama itu bermanfaat.

Pernah nonton film Adam Sandler yang “Anger Management”? Di situ diajarin “mantra’ buat bikin tenang: “Goosfraba!” :)

Goosfraba sebenarnya kata yang gak ada artinya sama sekali. Tapi mau pake kata apapun jadi ‘efektif’ (tanda kutip) asal ada repetisi dan delusi. Ketika delusi timbul akibat sugesti, mau baca mazmur 23 atau ayat kursi JUGA bakal ‘efektif’. Karena isi kata/kalimatnya sebenarnya gak penting. Sugesti yang sama pas elo disuruh kantongin batu kalo kebelet mau boker. Apa batunya ajaib bisa bikin elo jadi tahanin kebelet? Tentu tidak.

Umat Ngawuriyah Ngimpi Memimpin Dunia

Standard

Dari dulu saya bilang, aneh ada wanita-wanita beragama di mana soal baju sampe klitoris diatur kaum pria dengan bawa-bawa tuhan. Mungkin di timur tengah memang banyak kambing berwarna hitam. Ajaran-ajaran agama-agama samawi penuh dengan kambing hitam. :)

Yang memperkosa siapa, yang disalahin baju wanita. Yang syahwatnya gede siapa, yang disalahin klitoris wanita kegedean (makanya disuruh sunat). Banjir di Jakarta trus berulang sejak awal 1900-an, yang disalahin malah pelacur-pelacur dan patung di istana negara yang dadanya keliatan.

Dengan pola mistis dan ngawur kaya gitu, apa bisa diharapin memimpin peradaban manusia untuk selesaiin masalah-masalah dunia?

Jadi apa bedanya sama dukun yang pasiennya komplen sakit kepala terus disuruh kumur-kumur pake air yang udah dibaca-bacain? Gak ada. Memang jadi ironis liat kaum beragama ketawain orang yang suka ke dukun atau baca zodiak. Mereka gak nyadar mereka sama aja:

Percaya tahyul.

Roh? Yakin?

Standard

KLAIM: “Manusia gak bisa bikin sesuatu yang memiliki ruh”. Supaya valid, definisikan dulu apa itu ruh, dan buktikan adanya. Apa itu ruh? Sesuatu yang memberi nyawa? Oksigen dan carbon? Air? Yang mengatur detak jantung? Yang memberi emosi? Apa?

Kalo cuma soal memberi nyawa, manusia sudah bisa kloning hewan dr jaman kapan. Menciptakan mahluk hidup hasil utak-atik DNA. Kloning manusia juga secara teoritis udah bisa, tapi belum pernah dicoba karena masalah etika dan moral. Jadi tuhan. Menciptakan spesies baru dari gabungan spesies yang sudah ada juga sudah dilakukan. Disebut chimera.

Baca komplit sejarah kloning sampai ke perkembangan terakhir dunia genetika. http://www.newscientist.com/data/doc/teaser/mm/201010/instant_expert_2_-_cloning.pdf

Menciptakan sesuatu yang miliki ruh? Bikin tikus dengan otak manusia aja sekarang udah bisa, dul! http://news.nationalgeographic.com/news/2005/01/0125_050125_chimeras.html

Ruh, kan? Yang membuat mahluk jadi hidup dan bernafas kan? Ilmuwan sudah bisa bikin mahluk hidup. Fuck your god. Cuma tinggal masalah waktu kok sampai segala rahasia genetik tersingkap semua. Mungkin 50 taun, mungkin seabad. Tapi pasti. Tidak tertutup kemungkinan di masa depan bayi “diciptakan” langsung di dalam tabung tanpa surrogate. Secara teoritis sudah bisa.

Perpuluhan

Standard

Konsep persepuluhan itu konsep yang katanya ilahi, tertulis di taurat, dan diaplikasiin di gereja-gereja (tertentu}. Tapi apa benar ilahi? Mari kita buka-bukaan, sekalian liat kelicikan gereja.

Konsep perpuluhan sebenarnya udah ada dari jaman Mesopotamia dan budaya politeisme mereka. Nama konsepnya? Masretu. Masretu adalah bagian dr sistem penyembahan dewa Shamash (matahari), salah satu ribuan dewa di sana. Masretu adalah perintah dewa Shamash, pengikut-pengikutnya diperintahkan untuk memberikan 1/10 hasil ladang dan ternak mereka. Konsep Masretu diadaptasi ke dalam taurat dengan ditambahi cerita-cerita soal mulai dari Abraham sampe perintah-perintah tuhan.

Gak ada yang salah dengan konsep flat rate tax seperti Masretu atau perpuluhan (bhs inggris: tithe). Semua bangsa purba punya sistemnya masing-masing. Masretu, persepuluhan, tithe, ma’aser, bahkan zakat, apapun namanya, sebenarnya adalah sistem pajak. Yang salah adalah sistem tersebut dipaksakan supaya orang-orang taat yaitu dengan memakai konsep tuhan biar orang-orang tersebut takut.

Nah, sekarang ma’aser (aser: sepuluh – bahasa ibrani) atau persepuluhan dalam taurat itu sebenarnya fungsinya apa? Kalo mau baca seluruh sistem ma’aser dalam taurat, akan jelas bahwa fokusnya adalah para imam dan orang-orang miskin. Tapi dalam gereja-gereja, yang dikutip itu cuma sebagian ayat-ayat, yang menguntungkan para pendetanya secara finansial. Seperti fungsi pajak, ma’aser berfungsi untuk menolong orang-orang miskin supaya bisa makan (welfare). Dalam taurat, hal tersebut diatur jelas. Hasil ma’aser seluruh bangsa Israel dikumpulkan dan dibagikan ke orang-orang miskin. Dulu yang pernah saya bahas, konsep perpuluhan atau zakat itu udah gak berlaku lagi di negara seperti Indonesia. Konsep tersebut hanya berlaku di jaman teokrasi, bukan di jaman multikultur, heterogen dan sekuler seperti sekarang. Bayangkan negara udah punya sistem pajak, lalu ada grup-grup di dalamnya yang perpuluhan juga. Itu namanya dipajakin dobel!

Jadi selain penerapannya ngaco di dalam gereja-gereja, sistem perpuluhan juga udah outdated dan jauh dari konsep ilahi. Gak beda sama Yahudi yang kopas masretu dari Mesopotamia terus ganti jadi perpuluhan/ma’aser.

Nilai

Standard

Manusia punya banyak nilai yang mengikat hidupnya. Nilai ini diciptakan untuk menentukan mana yang baik dan buruk. Nilai adalah buatan manusia, produk dari sebuah peradaban. Pembatas yang diciptakan dan hidup di jamannya sendiri. Secara tidak sadar, nilai ini diturunkan dengan berbagai cara, dari generasi sebelumnya kepada generasi sesudahnya.

Seiring dengan kemajuan jaman, akan muncul nilai-nilai baru, yang merupakan perkembangan atau perubahan dari nilai yang dahulu. Sehingga, kita temui, banyak sekali nilai-nilai yang sudah punah, ataupun nilai-nilai primitif yang masih berubah.

Sepanjang garis peradaban, perubahan nilai akan terus berlangsung, sesuai ketentuan jaman. Nilai yang lebih baik, tentu akan menjadi pilihan utama manusia. Zaman akan mengeliminasi, nilai yang tidak mungkin lagi digunakan. Seperti, bagaimana bahasa yang berlapis-lapis, dan menentukan kasta dalam masyarakat sudah tidak dipakai lagi. Atau pergeseran nilai, yang membuat manusia sangat menghargai nyawa dan kebebasan manusia lainnya.

Tapi, untuk menggeser nilai-nilai lama, mendorong pembusukannya diikuti dengan nilai-nilai pemberontakan. Seperti bagaimana Louis XIV, dilucuti dari kekuasaan perwakilannya terhadap tuhan dan tersungkur menyembah rakyat. Tunas nilai-nilai baru akan bertumbuh, di atas bangkai nilai-nilai lama, yang selama ini dipertahankan. Ia akan menemukan jati dirinya, pada ujung penanda zaman yang telah membusuk.

Kebebasan yang sejati itu seperti anak-anak yang mencoret tembok rumahnya, tapi hanya sebatas sampai pintu pagarnya. Karena ia tau, bahwa karena jika kebebasannya ia gunakan untuk mencoret tembok tetangga, itu akan merepotkan yang lain.

Sinetron Penyelamatan, Bersambung Di Hari Kiamat

Standard

Yang paling absurd dari doktrin kristen adalah karya penyelamatan yesus. Sebuah drama sinetron epic level kosmik.

Plotnya gini:

tuhan ciptain manusia –> taro pohon terlarang –> larang manusia makan buahnya –> tapi dia udah tau bakal dimakan

Buah dimakan manusia –> tuhan hukum manusia –> tapi janji suatu saat bakal selametin manusia –> tuhan kirim anaknya

Anaknya mati nebus dosa manusia –> idup lagi –> yang percaya sama dia, boleh masuk lagi ke tempat di mana manusia tadinya diusir.

Kalo diterjemahin di level sinetron lokal kira-kira gini plotnya:

Seorang hakim gak percaya sama pembantunya –> dia ngetes taro duit di meja –> duit diambil si pembantu –> si pembantu dihukum

Tapi si hakim bilang nanti bakal nyelamatin si pembantu –> si hakim suruh anaknya jadi kambing hitam di persidangan

Anaknya dihukum masuk penjara –> si pembantu bebas –> tapi terus anaknya dibebasin juga dari penjara. Ribetnya ampun.

Dan endingnya ngetwist: si anak dan si hakim ternyata orang yang sama! Ini science fiction campur misteri dan thriller. Novel John Grisham, Stephen King, Michael Crichton, campur jadi satu dan dibikinin filmnya sama Christopher Nolan!