Non Overlapping Magisteria

Standard

Sebenernya simple, kalo teis mau mengakui bahwa kepercayaannya itu hanya berdasarkan RASA percaya saja, ya kasus selesai. Kalo teis mau mengakui bahwa kepercayaannya hanya berdasar emosi dan rasa hangat di hati, yasudah saya juga diem.

Tapi kan nggak gitu, teis NGOTOT mau masuk ke ranah sains, masuk ke ranah faktual dan logika, mengacak-acak realita. Ketika teis mulai mencampur adukan imajinasinya dengan fakta dan sains, di sini terjadi benturan. Saya jadi pengen noyor.

Ada istilah NOMA: Non Overlapping Magisteria. Agama dan sains itu dua hal yang gak bisa tumpang tindih dan disatukan. Saya lebih respect pada teis yang mengakui NOMA, “Ateis mungkin benar tapi saya percaya tuhan karena saya butuh untuk percaya..”

Kalo teis mengakui bahwa rasa percayanya hanya hal subyektif sama seperti kesukaannya pada es krim coklat, ya debat selesai. Tapi kalo masih mau ngotot mencoba membuktikan tuhan dan imannya lewat sains dan logika, oh ayo sini..

Compiled by: Kal Festino (twitter @kalfestino) | http://kalfestino.wordpress.com/

One thought on “Non Overlapping Magisteria

  1. babesmansa

    Saya bukan orang yang kuat dalam hal deduksi dan berlogika. Tetapi satu hal yang saya tanyakan contoh teis yang masuk ke ranah sains dan mengacak-acak realita itu apa ya?

    mohon penjelasan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s