Menjadi Ateis – Sebuah Perjalanan

Standard

Gak mau ketauan ateis/agnostik sama temen-temen. Makanya bikin akun kloningan buat follow Agamajinasi. Iya kan? Hehehe.

Banyak yang masih bingung apakah dirinya ateis. Gak percaya agama lagi, tapi masih belum bisa melepaskan sosok “tuhan”. Bisa dimengerti, karena sosok imajiner “tuhan” udah ditanamkan di kepala dari sejak kita masih nete sama nyokap. Melepaskan, membuang, membersihkan residu imajiner masa kecil yang bernama “tuhan” butuh proses, terkadang perjuangan.

When in doubt, use “agnostic” instead. Kalo masih ragu mengaku ateis, pake aja istilah “agnostik”. Lebih aman dan nyaman :)) Emang susah. Saya sendiri sudah mengalami proses perjalanan dan perjuangan yang panjang dari teis hardcore sampai jadi ateis. Tapi ingat ini, kawan… kau tak pernah sendiri. Keraguan yang kau rasakan, saya dan banyak org lainnya sudah pernah merasakan.

Just follow the white rabbit, and you’ll arrive at Wonderland. Where you can see the wonders of the universe as they are.

Agama dan tuhan mungkin efektif untuk mendidik prilaku sewaktu kamu masih bocah ingusan dan gampang dibegoin. Tapi kamu sudah dewasa sekarang. Bisa berpikir sendiri dan mengambil keputusan tidak lagi berdasarkan sosok imajiner.

Saya kasih sebuah cerita yah, mari duduk di padang rumput ini.. Bagikan keliling anggur dan rotinya #alaYesus

Alkisah seorang anak tinggal bersama kedua orang tuanya di sebuah desa terpencil. Sebuah desa yang damai tenteram. Kedua orangtua itu mengajarkan kebaikan pada anaknya, supaya anaknya tumbuh jadi pemuda yang berbudi dan berbakti. Rumah mereka nyaman, dengan cerobong asap dan halaman yang besar. Di halaman ada pohon apel yang berbuah sepanjang tahun. Ada satu larangan utama yang diberikan orangtua itu pada anaknya: tidak boleh keluar melewati pagar halaman.

“Kenapa aku gak boleh keluar pagar, mama?” | “Karena di luar sana bahaya, nanti kamu diculik raksasa atau dimakan serigala..”

“Aku takut sama raksasa, mama!” | “Iya, makanya kamu di rumah aja sama mama. Kalo di rumah kamu gak perlu takut..” |

Bertahun-tahun, anak itu tumbuh dewasa tanpa pernah menginjakkan kakinya keluar pagar rumahnya. Tinggal dalam kenyamanan. Tapi setiap hari si anak selalu memanjat genteng rumah dan memandang di kejauhan. Mencoba melihat dunia di luar pagarnya. Sungai yang berkilau di kejauhan. Gunung-gunung yang menjulang. Oh, betapa ia ingin melihat dunia dibalik pagar rumahnya.

Suatu hari, anak itu iseng mengejar seekor tupai dan nekad keluar pagar halamannya. Berlari hingga jauh, melewati hutan. Melewati hutan yang gelap tertutup lebatnya pepohonan, awalnya si anak ketakutan karena ia ingat cerita mamanya tentang raksasa. Karena panik, ia tergelincir. Terperosok dan terguling-guling, sampai terjerembab dan tiba di suatu tempat yang luas. Ia membuka matanya dan tercengang! Melihat hamparan bunga warna-warni sejauh mata memandang, pemandangan terindah. Tidak ada raksasa, tidak ada serigala. Hanya ada kupu-kupu dan capung berkejaran ceria diatas bunga-bunga.

Seketika itu juga si anak memutuskan sesuatu, ia akan pergi melihat dunia. Hasratnya menggebu penuh semangat. Ketika kembali ke rumah, ia bercerita pada mamanya dengan penuh semangat tapi mamanya murka dan menghukumnya.

“Kenapa kamu tidak menuruti perintahku? Kau anak durhaka!” Cacian dan makian membuat si anak merasa bersalah.

Tapi ia ingat hamparan bunga-bunga indah yang tadi dilihatnya, membuatnya berani berdiri dan bertanya pada mamanya.

“Tidak ada raksasa, tidak ada serigala. Kenapa kau berbohong padaku, mama?!” | Mamanya tertegun, kaget.

“Aku berbohong karena aku mencintaimu, anakku.. Aku tidak ingin kau pergi dari rumah ini..” | Mamanya tiba-tiba menangis.

“Aku sayang mama, bagaimanapun juga mama yang sudah membesarkanku.. Tapi aku ingin pergi dan melihat dunia.”

“Percuma mama membesarkanku bila aku hanya tinggal di sini, biarkan aku jalanin hidup yang kupilih mama..”

Dengan penuh tekad, membawa bekal seadanya, si anak pergi dari rumahnya. Melihat dunia dengan rasa cemas sekaligus harapan. Berat rasanya meninggalkan rumah dan mamanya, tapi terus tinggal dalam rumah itu seumur hidupnya juga tidak mungkin. Tapi keterkungkungan, seberapapun nyamannya, akan membuat jiwa manusia menjadi kerdil. Seperti katak dalam tempurung. Jiwa manusia ditakdirkan untuk terbang, bebas lepas. Tidak terikat. Menyatu dengan luasnya alam semesta. Menggapai bintang.

Keluar dari kenyamanan rumahmu, dan temukan takdirmu..

Compiled by: Kal Festino (twitter @kalfestino) | http://kalfestino.wordpress.com/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s