Ilmu Bukti

Standard

Bodoh, adalah mempercayai sesuatu tanpa menggunakan logika. Tidak masuk akal, lantas dipercaya saja. Itu bodoh. Banyak sekali, teis yang berdebat dan bilang kalau tuhan itu masuk akal. Tuhan itu begini dan begono. Lantas, kalau kewalahan, bilangnya tuhan itu di luar logika. Tuhan itu nggak perlu dipertanyai, percaya aja dengan iman.

Ilmu yang kita pelajari, kimia, biologi, matematika bersandar pada logika. Ia harus masuk akal dan logis. Kita sudah mempelajari ilmu logika sejak SD. Matematika salah satu contohnya. Tapi, entah tuhan macam apa yang membuat kita mengharamkan cara berpikir yang logis. Jika, tuhan di luar logika, artinya, tuhan itu sejajar dengan doraemon yang ngeluarin pintu setinggi 2 meter dari kantong kecil. Sama sama dongeng, sama sama nggak logis. Lantas, kalo nggak logis, buat apa dipercaya?

Lebih parah lagi, udah tau nggak logis, hukum hukumnya yang udah nggak sesuai ama jaman, masih ngotot diterapin juga. Yang lebih pandir mendekati tolol, malah ada yang rela mati dan bunuh-bunuhan, demi sesuatu yang cuman dongeng dan nggak logis itu.

Logika adalah sebuah cara berpikir yang tepat, sebuah penalaran yang masuk akal. Sains, adalah hal hal mengenai kebendaan. Sebuah ilmu bukti. Tapi, masih susah berbicara dengan orang indonesia mengenai ini. Mereka berbicara mengenai hal hal yang tidak ada, tidak bisa diperalamkan, tidak nyata. Roh, tuhan, alam gaib itu apa sih? Bisa dibuktikan? Sesuatu yang ditelan begitu saja, dan dibawa ke liang lahat tanpa bukti.

Ada anemometer. RT @Adolf_Zog: @Agamajinasi saya rasa saint jga banyak bicara hal ygg tidak nyataw ujudnya, angin dan rasa contohnya.

Aneh, nyamain tuhan sama angin. Tuhan itu ternyata, bersemayam dalam kentut. Banyak sekali attempt untuk “menyelamatkan tuhan”. Dari analogi mengenai angka, angin, kentut, perasaan. Pernah saya bercerita dengan seorang buddha. Rumahnya terbakar habis. Dan ada alasan dia percaya pada kekuatan supernatural. Rumahnya terbakar habis, kecuali suatu patung buddha di rumahnya.

Percayalah, dia yang “percaya”, yakin sama apa yang dia percayai, sama dengan orang nungging di masjid atau gereja. Upaya merasionalisasi, apa yang dia percaya. Patung buddha yang tidak terbakar, bisa saja terjadi untuk benda benda lainnya. Sebuah kebetulan, 1 dari ribuan ataupun jutaan kemungkinan, bukan vas bunga yang selamat dari kebakaran.

Cuma “perasaan” yang bermain di sini. Hal tersebut, berlaku sama dengan org yang terlanjur percaya sama apa yang dia percaya. Entah itu muslim, kristen. Cuma “perasaan”, upaya merasionalisasikan apa yang dia percaya. Lantas, kok sesuatu yang berdasarkan, “perasaan”, tidak terbuktikan, bisa dipertahankan mati-matian?

Apalagi kita bicara sains, ILMU BUKTI. Kok, yang dibangga-banggain, sesuatu yang nggak ada buktinya? Tuhan gak bisa diliat, tapi bisa dirasakan. Iya, kayak kentut. Persis kayak kentut. Gak bisa diliat tapi baunya ke mana-mana. Kalau mau bicara ilmu bukti, bicara sesuatu yang bisa dibuktikan. Bukan yang mengawang awang. Namanya aja ILMU BUKTI.

 

Compiled by: Kal Festino (twitter @kalfestino) | http://kalfestino.wordpress.com/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s