Eratosthenes

Standard

Bukan cuma perkembangan sains terkini, di mana manusia menggunakan model, hitungan untuk membuktikan “imajinasinya”.

Pada abad ke 3 sebelum masehi, Eratosthenes merasa penasaran, ketika melihat matahari dan bayangan. Ia bertanya, kenapa tembok di Alexandria pada waktu yang sama mempunyai bayangan, dan di syene tidak berbayang sama sekali? Eratosthenes menghitung keliling bumi, berdasarkan observasi tersebut. Eratosthenes memperkirakan, karena bumi melengkung, maka bayang kedua kota tersebut mempunyai sudut yang berbeda. Ia memakai rumus geometri sederhana untuk membuktikan kemiringan tiang-tiang batu itu.

Tidak ada bayangan di Syene, pada hari pertama musim panas. Atau tidak ada sudut sama sekali. Sedangkan, di Alexandria berjarak 70. Sudut 70 antara dua kota itu, adalah 1/50 lingkaran. Jadi, Eratosthenes mengkalikan 800km (jarak kedua kota) dengan 50 dan mendapatkan 40.000 km.

Apa yang Eratosthenes lakukan, pada saat itu, bagi masanya adalah seperti hal yang tidak mungkin untuk menghitung keliling bumi. Tapi apa yang dilakukannya, berdasarkan observasi dan hitungan matematis. Bukan sesuatu yang dia “khayalkan”. Dan dia membuktikan dirinya sebagai cendekiawan kelas 1, karena keliling bumi tepatnya adalah 40.061 km.

Orang dulu liat Aritosthenes, kayak @justmyself1307 sekarang ngikutin perkembangan sains. Mikirnya, itu hasil ngigo. Di mana, hal-hal tersebut sebenarnya punya dasar.

 

Compiled by: Kal Festino (twitter @kalfestino) | http://kalfestino.wordpress.com/

One thought on “Eratosthenes

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s