Dilema Doktrin Kesempurnaan Islam

Standard

Ada dilema antara sesama muslim mengenai doktrin agama mereka soal “Islam adalah agama yang sempurna.” Dilemanya begini:

  1. Kalo islam adalah agama yang sempurna, sementara hanya tuhan yang sempurna, berarti menduakan tuhan. Sementara..
  2. Kalo islam bukan agama yang sempurna, artinya agama tersebut ada kekurangannya, alias ada yang cacat/salah di dalamnya.

Dilema tersebut jadi paradoks, sehingga jika Anda tanya ke pemimpin-pemimpin islam, Anda akan mendapatkan jawaban (baca: justifikasi) yang berbeda-beda.

”…Kusempurnakan untukmu agamamu, & telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu” (QS. Al-Maaidah :3)

Doktrin islam adalah agama yang sempurna didasari oleh ayat tersebut yang tadi saya twitkan. Muslim akan kesulitan menjawab kalo ditanya apakah islam agama yang sempurna. Bilang iya, kena no.1, bilang tidak kena no.2. Analogi siswa dan mahasiswa itu sering saya dengar. Perbandingan keliru jika dibandingkan sempurna dan maha sempurna. Bukan jeruk ke jeruk. Kalo di atas sempurna ada lagi tingkatan (maha sempurna) ya berarti sempurnanya gak sempurna dong? XD

Sempurna itu sendiri sudah tanpa cacat. Memberikan kata maha di depannya hanya menjadikan maknanya jadi redundant (berlebihan).

“Gimana dengan siswa dan mahasiswa?”

Siswa itu jauh dari dan beda dengan sempurna. Makanya dinamakan siswa (murid). Tidak bisa dibandingkan dengan sempurna.

Kata sempurna itu berkarakter mirip dengan kata kekal. Sudah mentok di situ, redundant jika diberikan kata maha, sangat, amat untuk menyertainya. Sampe sekarang saya masih senyum-senyum geli tiap kali liat perdebatan antara sesama muslim mengenai doktrin “islam agama yang sempurna”.

Menurut kbbi http://bahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/index.php arti kata sempurna adalah: utuh, lengkap, komplit, terbaik. Nah kalo udah terbaik, komplit, utuh, buat apalagi ditambahi maha, sangat, amat? Seperti yang saya bilang, jadinya redundant.

Compiled by: Kal Festino (twitter @kalfestino) | http://kalfestino.wordpress.com/

2 thoughts on “Dilema Doktrin Kesempurnaan Islam

  1. fara

    eCoba lihat kaliamat ini ‘ daun teh yang sempurna’.
    Konteks daun the yang sempurna itu bagaimana? Yang bisa memenangkan semua nobel dimuka bumi ini?Atau bisa bicara sama manusia? Atau bisa jadi memperbudak manusia?
    Tentu ini penafsiran yang salah.
    Nah, yang kita sebut daun teh yang sempurna kan daun yang tidak terkena hama, daun the yang tidak busuk, daun the yang bentuknya bagus, daun teh yang rasanya enak setelah diseduh.
    Sama halnya dengan ‘agama yang sempurna’
    Agama adalah tatanan suatu tatanan yang mengatur iman dan peribadatan kepada Tuhan serta tatanan kaidah manusia berinteraksi dengan lingkungan dan antar manusia lainnya.
    Sekarang kita gabungkan antara agama dan kesempurnaan. Tentunya agama yang benar sesuai dengan kodrat manusia dan menyembah Tuhan yang sempurna. Bukannya menentang logika manusia.
    Sekarang ‘tuhan yang maha sempurna’
    Tuhan itu apa?
    Tuhan itu suatu yang dijadikan manusia sebagai sesuatu yang patut disembah, zat yang maha segalanya dalam arti mencakup semua kesempurnaan yang ada. Tentunya bila seseorang mempertuhankan sepucuk daun teh , maka daun the itu bukanlah tuhan yang sebenarnya. Ia tidak patut disembah karena jangankan mengabulkan doa kita ataupun mengutuk kita. Sesempurnanya daun the ia akan hancur bila kita injak, atau terkena mikrobakteri. Tentunya secara logika tidak akan ada manusia yang mempertuhan daun the.
    Maka, Tuhan yang sempurna adalah zat yang mencakup segala kesempurnaan di muka bumi ini. Maha kuasa, maha perkasa, maha indah, maha penyayng, dsb. Dalam islam ada 99 sifat-sifat Allah yang tertera di ayat-ayat dalam al-quran.

    Jadi, kalau manusia disebt menduakan Allah karena menyatakan bahwa agama Allah sempurna itu juga logika yang salah. Karena semua hal punya kesempurnaan sesuai konteks. Contohnya daun the yang sempurna tadi.

    Firman allah agama islam sesuai dengan kodrat manusia:
    30:30
    17:84
    2:286
    Masih banyak lagi

    Semoga anda mendapat pencerahan:-)

  2. Yutirsa Yunus

    Jadi anda hanya bisa mendebat (baca: mencela) kesempurnaan Islam dengan argumen gramatikal dan permainan kalimat seperti ini? Saya harap di masa datang anda bisa memberikan argumen yang lebih historis, logis, bahkan saintifis mungkin. Semoga saja bisa. Sebab, jika anda memilih untuk menjadi ateis atas nama sains.. Mungkin anda perlu untuk mendebat Einstein, tokoh sains abad XXI, yang menjawab segala fenomena persepsi ruang dan waktu dengan teori relativitas, pun masih mengakui eksistensi Tuhan. Kata Einstein, “Tuhan tidak bermain dadu”. Kalau dalam Al-Qur’an, “Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dengan bermain-main.” (QS. Ad-Dukhan: 38). Kalau kata saya, “Tuhan tidak bermain kata-kata.” Salam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s