Bukan “Siapa”, Tapi “Bagaimana”

Standard

Pararel universe, konsep yang dianggap ajaib oleh banyak orang, tapi masih plausible (masuk akal) di dunia sains. “keajaiban” dunia sains jauh lebih keren daripada fantasi samawi :D

“Siapa yang mengatur” itu pertanyaan delusional. Mengobservasi fenomena alam berbasiskan diri sendiri. Kalau kamu tinggal di rumah dan ada barang pindah tempat, logis kalo kamu bertanya “siapa yang mindahin?”

Berdasarkan pengalaman dan observasi kamu, kecuali ada gempa, barang gak pernah bisa pindah sendiri, tanpa ada keterlibatan makhluk hidup. Dalam konteks tersebut, “siapa” itu pertanyaan valid.

Karena keterbatasan pengetahuan, dahulu manusia menerapkan kata “siapa” untuk fenomena alam. “Siapa” yang bikin kilat? “Siapa” yang meledakkan gunung berapi? Ada indikasi kuat munculnya dewa-dewa jaman dahulu dengan mindset “siapa”. ketidaktahuan manusia dipersonifikasikan menjadi dewa. Jadi pertanyaan “siapa” dibangun berdasarkan pengalaman. Namun… pengalaman manusia terus bertambah.

Dengan kemajuan sains, kita sekarang tahu, tidak ada siapapun di balik TERJADINYA kilat, tapi kita tahu BAGAIMANA gunung bisa meletus. Kemajuan sains gak berenti sampai di situ… sampai ketika manusia sampai bulan pun, gak ada SIAPAPUN di sana. Penjelasan mekanika perputaran tata surya, TIDAK PERLU MELIBATKAN SIAPAPUN (kecuali sang penutur) :)

Pengalaman manusia modern bertambah. “Siapa” gak melulu diperlukan dalam sebuah fenomena. Pertanyaan yang lebih populer sekarang ini dan bergeser seiring kemajuan jaman adalah… BAGAIMANA? bukan “siapa”.

BAGAIMANA alam bisa memunculkan sebuah struktur yang kompleks dan sangat berseni? matematika bisa menjawabnya dengan fractal. Secara simpel fractal itu algoritma matematika yang bisa menciptakan sebuah kerumitan tingkat tinggi dari sesuatu yang sederhana. Implementasi fractal bisa dilihat disini : http://faculty.mc3.edu/cvaughen/chaos/index.html

Dan ini adalah pattern fractal yang ditemukan di alam : http://en.wikipedia.org/wiki/Fractal#Natural_phenomena_with_fractal_features

Dengan sebegitu banyak penjelasan dengan mindset “BAGAIMANA”, “siapa” mulai tersudut dan mulai usang. Bahkan ketika dompet kamu hilang, belum tentu disebabkan karena “siapa”, tapi mungkin aja jatuh di bus atau ketinggalan di rumah, tanpa perlu ada orang yang mencurinya.

Apakah pertanyaan “siapa” gak valid? Valid-valid aja, tapi berdasarkan pengalaman, BAGAIMANA memberikan jawaban yang lebih memuaskan. Dan biasanya, “siapa” itu adalah pertanyaan mereka yang malas bepikir lebih jauh, para pesakitan GOD OF THE GAPS.

Ada perbedaan besar, menggunakan mindset “BAGAIMANA” daripada mengunakan mindset “siapa”. Manusia gak bakal pernah bisa terbang, kalau mereka gak pernah nyari tahu BAGAIMANA burung bisa terbang. Cacar air bakal jadi penyakit yang sekelas AIDS, kalau mereka gak cari tahu BAGAIMANA penyakit itu bekerja :)

Sedangkan menerapkan mindset “siapa” untuk fenomena alam, hanya berujung pada masturbasi iman dan efek placebo :)

Compiled by: Kal Festino (twitter @kalfestino) | http://kalfestino.wordpress.com/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s