proses pemikiran – atheism

Standard

Saya sendiri yang menentukan makna dan tujuan hidup saya. Itu artinya menjadi manusia seutuhnya. @dwikyardian @Agamajinasi Lu pernah mikir gak, alam semesta yang sekompleks dan serumit ini, masa gak ada yg mencipta ato merancang?

Justru karena saya mikir tanpa henti maka jadi atheis. Kemegahan alam semesta gak bisa dijawab dengan: ada yang nyiptain. “Lu pernah mikir gak sih, min..” | Apapun yg kamu tanyain, saya sudah pernah memikirkannya. Naif kalo kamu pikir sebaliknya. Pernahkah kamu berpikir bahwa saya jadi atheis justru karena hasl pemikiran yang mendalam dan proses yang panjang? Beda saya dengan kamu, saya gak puas dengan jawaban yg dicekokin agama. Saya mencari sendiri jawaban saya.

“Alam semesta begitu kompleks, gak mungkin gak ada yg ciptain.” | Gak ada hubnya kerumitan dengan adanya pencipta.

Pertanyaan saya sewaktu kecil: kalo alam semesta ada yg nyiptain, maka siapa yang nyiptain sang pencipta? Segala sesuatu harus ada penciptanya, tapi sang pencipta gak ada penciptanya. Ini jawaban yang absurd buat boongin anak kecil. Siapa pencipta alam semesta? Jawaban paling jujur dan paling baik adalah: tidak ada seorangpun yang tau. Saya tidak tau, kamu juga tidak tau, Muhammad tidak tau, Yesus juga tidak tau, Buddha juga tidak tau. Argumen paling tolol adalah: semua harus diciptakan, tapi allah tidak diciptakan karena dia adalah creator. Dengan argumen itu, maka ada hal hal yang tidak membutuhkan creator. Termasuk alam semesta.

Kenapa teis, hanya mengkhususkan allah tidak memiliki creator? Karena kebingungan, sama logical fallacy: semua membutuhkan pencipta. Tapi, justru makan diri sendiri dengan argumen itu. Kalo allah lu yg ganteng, juga sakit jiwa dan keren minta ampun itu nggak butuh creator. Kenapa alam semesta butuh creator? Oh iya, saya lupa. Allah punya creatornya. Kamu sendiri yang nyiptain allah, dengan segala kengototan dan kemauanmu.

Katanya tuhan itu masuk akal. Tapi begitu dibahas, “otak lu nggak nyampe”. Otak lu yang nggak nyampe. Sampe yang tuhan yg mengandung logical fallacy dipercaya, diimani dan dipertahankan sampe mampus. Siapa yang menciptakan allah? Allah kuadrat. Siapa yang nyiptain allah kuadrat? Allah kubik. Eh, allah kubik itu creatornya. Karna, allah kubik itu creatornya, jadi allah kubik nggak butuh creator. Daripada muter muter terus kayak metro mini. Jika tuhan adalah alfa dan omega, ia adalah semesta itu sendiri. Ia tunduk pada hukum hukum semesta. Dan jika tuhan adalah alam semesta, untuk apa dipersonifikasikan? Ia tidak pernah juga minta disembah.

 

Compiled by: Kal Festino (twitter @kalfestino) | http://kalfestino.wordpress.com/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s