Menjadi Manusia Seutuhnya

Standard

Agama, menyumbangkan banyak sekali permasalahan pada sejarah peradaban manusia. Perang, pembodohan, diskriminasi. Agama, dan system ketuhanannya, mau serusak apapun itu tetaplah ciptaan manusia juga.

Yang seharusnya dipertanyakan adalah: kenapa manusia menciptakan system ketuhanan? Kenapa juga mati matian memepertahankannya?

Agama hanya cerminan dari kehidupan manusia yang sengsara. Kesengsaraan ini tidak disadari. Semakin ia sengsara, semakin ia membutuhkan agama, membutuhkan sosok tuhan. Justru, apa yg tidak ia sadari ini yang penting

Agama, ikut terseret dalam pembentukan manusia. Selayaknya manusia membentuk sejarah. Manusia tidak akan menemukan kemanusiaannya di dalam agama. Ia harus menemukan di dalam dirinya sendiri. Ketika manusia mampu melihat manusia sebagai manusia, dan dunia sebagai dunia. Maka manusia berpulang pada dirinya sendri.

Seumur hidupku, aku tak akan menjilat pantat tuhan allah dan staffnya di muka bumi hanya untk dimasukkan ke dalam surga. Aku percaya untuk menjadi manusia seutuhnya. Karena kebaikan bukan dari agama, tapi dari manusia itu sendiri.

Kamu mengernyitkan dahi? Mengasihani aku? Kamu yang seumur hidupnya menjilat pantat nabimu demi dongeng bau ompol surgawi. Dan kamu, mengasihani aku? Kamu yang pengecut, yg tak berani mendobrak kerangkeng agama, tidak bebas, terkekang di dalamnya. Dan, kamu-kamu ini, yang malah sampai hari ini, cuma tercatat sebagai konsumen buku usang tebal, juga kadaluarsa. Seperti orang yang berteriak karena terjerembab ke dalam lumpur hisap. Dan makin terjerembab karena teriakannya.

Manusia, menjadi manusia seutuhnya, karena apa yang dikerjakan dan apa yang dipikirkannya. Kenapa aku percaya pada kemanusiaan? Karena manusia adalah individu yang bebas, yang saling berhubungan. Dan karena hubungan persaudaraan itu, manusia melahirkan kemanusiaan. ia bersifat universal, sejak manusia berhubungan. Sebagai manusia seutuhnya saya menolak untuk ditentukan kenapa dan apa tujuan hidup saya oleh agama dan orang lain.

Compiled by: Kal Festino (twitter @kalfestino) | http://kalfestino.wordpress.com/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s