Tidak Percaya Adalah Percaya?

Standard

Mengatakan bahwa atheism adalah agama juga itu seperti mengatakan bahwa botak adalah gaya rambut. Atheism bukan sebuah kepercayaan, tapi sebuah penolakan terhadap kepercayaan.

Ada yg berpendapat bahwa sejatinya, nggak ada ateis. Krn ateis punya tuhan, ia menuhankan uang, hawa nafsu, dsb. Bagaimana dengan yang teis? Apa karena dia beragama DAN juga menuhankan uang, hawa nafsu, lantas bisa saya label bahwa orang tersebut adalah POLITEIS? Nanti kalo saya label begitu malah ngamuk :)

Bicara soal nafsu: Nafsu adalah bagian dari diri manusia! Nafsu itu alamiah. Bagaimanakah sesuatu yang adalah bagian dari dirimu dipertuhankan? Sementara uang adalah alat pertukaran ekonomi, yang diciptakan untuk mempermudah pertukaran dalam masyarakat. Dan kenapa ada orang lebih mentingin uang daripada tuhan awlohmu itu? Kalau doapun nggak jauh jauh dari minta rejeki, diperlancar pekerjaannya, dilindungin pekerjaannya. Karena uang itu dipercaya ada hubungannya dengan kesejahteraan masyarakat. Dibandingkan tuhan awloh lu, yang narsis dan dipercaya suka ngasih gempa bumi ama tsunami sebagai hukuman kalo musyrik atau bolong doanya. Udah gitu, tuhan cuma ditelusuri lewat buku buku usang, yang pantasnya dipake buat pengganti tissue toilet. Logisnya dari tukang becak sampe CEO lebih mentingin uang daripada tuhan.

 

Susah yah untuk ngerti konsep TIDAK PERCAYA? Tetep aja ngotot ateisme itu kepercayaan.. Ateis gak percaya Tuhan dan agama, sama seperti lu gak percaya Zeus dan Zoroastrianism. Gitu aja kok susah?

Apakah ketidakpercayaan loe pada Zeus, Odin, Horus, adalah sebuah kepercayaan?

Compiled by: Kal Festino (twitter @kalfestino) | http://kalfestino.wordpress.com/

2 thoughts on “Tidak Percaya Adalah Percaya?

  1. sebenarnya cukup tertarik dengan artikel di atas, tapi ada kalanya kalau kita melihat hakikat manusia itu sendiri memilki kepercayaan. Apakah hanya agama saja yang boleh dipercayai? tentu saja tidak, atheis pun memiliki kepercayaan yaitu tidak mempercayai Tuhan (dalam artian absurd), dan lebih mempercayai logikanya. Sekarang kalau misalnya atheis bukan suatu kepercayaan, lalu apa? suatu kekosongan pandangan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s