Fight For A Cause

Standard

Fight for a cause” sering kita denger. Dan cause yg paling rendah itu ya SARA (suku, ras dan AGAMA).

Cause bisa macem-macem. Ada for aids atau cancer survivors, LGBT, feminism, dll. Tapi causes seperti itu baru muncul 100 taun terakhir. Kenapa saya bilang paling rendah? Karena menyulut provokasinya paling gampang. Yang pernah jadi korlap pasti tau.

Kalo lagi demo utk penderita kanker, jadi korlap utk naikin mood demo itu susah. “Musuh”nya bukan manusia tapi sel-sel kanker. Beda banget kalo tema demonya masalah SARA. Bikin orang nangis dan marah itu gampang kalo isunya SARA. Pemerintah-pemerintah juga tau ini, makanya isu SARA jaman orba dilarang diomongin karena sensitif.

Akhirnya 32 taun lebih si “anak” dilarang sama “bapaknya” utk deket-deket SARA, seperti api, takut terbakar mungkin. Padahal kalo 32 taun itu bisa dipake utk melatih si anak utk terbuka dan jujur, sebenarnya gak ada masalah yg sensitif.

Setiap kali ada konflik berdarah antara Palestina-Israel, seperti biasa foto-foto korban yang berdarah-darah beredar di internet. Ditampilkan dengan caption/teks yang mengharu biru, bilang kalo si korban bernama si M, hasil kekejaman negara Y. Alhasil banyak yg meradang liat foto-foto tersebut, karena banyak juga yang bernama M. Merasa korban si M juga bagian dari mereka.

Hasilnya tentu beda kalo si korban kulitnya hitam dan namanya berbau nama orang-orang afrika. It won’t relate at all. Divisi propaganda nazi jerman juga tau ini. Something that relates to audiences will have greater impact. Makanya pra PD II foto-foto yg disebarin di Jerman adalah fotofoto yg bisa bikin rakyat meradang. Atau sebaliknya, euphoria.

Bagian dari otak manusia yg merasa adanya hubungan hasil dari simpati karena “senasib sepenanggungan” malah bagian yang primitif. Bagian otak tersebut yg bisa dimanipulasi oleh pidato-pidato, kotbah-kotbah,dan gambar-gambar utk memancing hormon sebelum akhirnya keluar emosi.

Coba eksperimen dirimu. Liat foto-foto korban perang. Mana yg lebih miris; korban-korban yang warna kulitnya sama denganmu atau yg beda. Liat korban-korban hasil kekerasan, mana yang lebih miris, yg pake baju atau atribut-atribut keagamaan yg sama dengan agamamu, atau yang beda.

Saya sering liat foto-foto propaganda kristen dan islam. Sama kok caranya. Kadang ngeliatnya bukannya miris malah senyum getir. Waktu Obama terpilih jd presiden amrik taun ’04, Fox news (pro kristen konservatif) nayangin klip video tentara2 Hezbollah. Klipnya kasih liat tentara-tentara itu nembakin senjata-senjata mereka sepertinya gembira dengan hasil pemilu amrik. Padahal itu klip peristiwa dari bertaun-tahun sebelumnya, gak ada hubungannya sama Obama apalagi amrik. Tapi narasi Fox News dibikin bahwa kemenangan Obama adalah kekalahan barat/kristen dan sekaligus kemenangan dunia arab.

Compiled by: Kal Festino (twitter @kalfestino) | http://kalfestino.wordpress.com/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s