ekspansi agama

Standard

Sebelum adanya agama-agama samawi, dunia masih sarat dengan suku-suku lokal yang sarat dengan animisme dinamisme. Animisme dinamisme ini sebenarnya beda banget sama yang dijelasin oleh pemimpin-pemimpin agama (sesat, bodoh dll). Konsep suku-suku lokal soal benar salah sebenarnya sederhana; tidak merugikan orang lain.

Elo mencuri ya elo dihukum. Elo membunuh elo dihukum. Esensinya soal adanya pihak yg dirugikan. Dulu sempet bahas soal suku Piraha, suku yang gak kenal konsep tuhan. Ada lagi suku-suku lain seperti itu, mis suku Zulu, pigmy dll.

Apakah karena suku-suku tersebut gak kenal konsep tuhan, jadi gak kenal soal benar salah? Justru mereka tau konsep tersebut.Ketika agama-agama samawi lahir dan ekspansi, konsep benar salah itu yang awalnya sederhana jadi lebih rumit dan ngawur. Ekspansi agama-agama samawi ini mengerikan; mulai dari benua afrika sampe ke pojokan Papua Nugini.

Suku-suku lokal yang tadinya sehari-harinya telanjang, mis., mulai dikenalkan dengan pakaian. Simbolisasi moral agama. Insting natural manusia akan lapar dan seks di-demonized oleh agama-agama samawi. Dikenalkan dengan berbagai norma baru. Norma-norma baru ini misalnya soal pakaian yg tertutup, ritual puasa, dll: Self-restraint yg berlebihan utk mencari berkah.

Karena syiar islam dan pekabaran injil begitu agresif, suku-suku lokal tersebut banyak yg punah 1-300 taun terakhir ini. Punah dalam arti mampus dibunuh (exterminate), dipaksa beradaptasi atau urbanisasi (pindah ke kota; kenal konsep uang).

Kemaren liat foto-foto lama orang-orang di Indonesia pra masuknya pedagang Islam dan kristen, mulai dari Aceh, Batak, sampe Papua. Kalo ngeliat foto-fotonya orang bisa ngira itu suku-suku lokal di afrika. Telanjang dada. Cowok sama cewek campur dan ketawa-ketawa.

Mereka moyang Anda dan saya. Yang harusnya bisa kaim tanah dan hak hidup mereka. Bukannya klaim dari para habib dan pendeta.

Sekarang cewek pulang malem pake rok pendek dikira pelacur. Dulu cewek telanjang dada dan gak ada yang mikir soal pelacur. Sifat agama yg ganas dan agresif seperti kanker, justru hampir mustahil dipisahkan dari kekuasaan itu sendiri. Bukan saja dogma yang disebarkan, wilayah dan budaya asli juga dicaplok. Menumpang diam-diam lewat perdagangan.

Sejarah amerika 100 taun yg lalu itu non-intervention; Ora urus. Ngakuin sovereignity negara lain. Begitu menang WW II sifatnya berubah jadi world police. Mengamankan interest mereka di negara-nagara lain.

Dulu pernah dibahas soal Muhammad juga kan. Dia ngomong bagimu agamamu bagiku agamaku ya sebelum dia masuk politik. Begitu masuk politik mis naklukin Kota Mekah dll ya ekspansinya lewat pedang. Kristen juga begitu. Waktu pengikutnya kecil sabda karakter Yesus ya soal gak usah ngurusin orang yg beda sama mereka. Begitu pengikut banyak sabdanya twist, yg gak ikut mereka berarti melawan mereka. Dulu awalnya saya percaya itu juga. Bukan agamanya tapi orangnya yg salah. Analoginya macem-macem mulai dari pisau sampe pistol.

Tapi kalo satu variabel dihilangkan ternyata bisa mengubah equation, berarti variabel tersebut yang berperan dominan kan? Tapi apa berarti atheisme harus datang lewat senjata dan kekerasan? Yah gak. Jangan mengulangi sejarah (agama).

 

Compiled by: Kal Festino (twitter @kalfestino) | http://kalfestino.wordpress.com/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s