tu quoque – atheisme

Standard

“Hitler, stalin, pol pot itu ateis. Ateis itu tidak benar. Yang melawan kemanusiaan itu tidak benar.” Ini argumen teis. Maka perlu kita bedah dulu, ke dalam beberapa premis.

Premis 1: yang melawan kemanusiaan itu tidak benar.

Premise 2: asumsinya, pribadi seperti hitler, pol pot dan stalin adalah ateist. Mereka menolak tuhan.

Ini adalah logical fallacy. Namanya “tu quoque”, bentuk dari ad hominem argument. Tapi ada sesuatu yang ganjil di sini, stalin membunuh karena pemerintahannya terancam. Pemerintahan stalin yang dogmatis dan berkuasa itu. Ia telah membuat dirinya seperti “tuhan”, atau “nabi”. Dan mereka yang menjalankan perintah, karena didogma oleh stalin. Didogma oleh negara. Dan bukan karena ateisme. Tidak pernah tercatat dalam sejarah, pembunuhan yg terjadi karena “ketidak percayaan” terhadap sesuatu (ateisme).

Apakah ini bisa disamakan dengan agama? Yah jelas. Agama itu dogmatis. Seperti saat stalin berkuasa. Mereka yang membunuh atas nama stalin, nabi, tuhan. Sama saja di mata saya. Tidak ada bedanya. Jadi, jenderal, bapak pembangunan tersayang, soeharto yang islam itu, yang membunuh jutaan jiwa itu ke mana????? Kok soeharto nggak pernah disinggung? Dia bisa tersinggung loh. Kok Stalin dan Hitler melulu? Soeharto itu diktator islami.

Kenapa saya menyamakan Stalin, Hitler, Soeharto dengan Muhammad? Dogmanya beda tapi sama sama totaliter. Fasis.

Vatikan, FPI itu bentuk dari fasisme. Ada individu yang dikultuskan, dengan dogmanya masing masing. Kalau, ada yg blg ateisme pun adalah fasisme karena stalin. Yah, stalin nggak berhasil bawa “ateisme” ke dalam ideologinya. Justru, ia pakai “candu” yang lain. Untuk menjaga kekuasaannya.

Ateisme, tidak seperti membangun katedral. Di mana ada grand plannya, harus dibangun seperti ini, tidak ada perintah. Ateisme, lebih seperti, tumbuhan yang tumbuh bebas, dan membiarkan yang lainnya tumbuh, tanpa mengganggu yang lain.

Setiap orang, dengan pemikirannya sendiri, dengan pandangannya sendiri, apa yang menjadikannya adalah dirinya sendiri.

Compiled by: Kal Festino (twitter @kalfestino)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s