rasionalisasi

Standard

Manusia, punya kemampuan untuk tanpa sadar membenarkan kepercayaannya, walaupun tak ada apapun yg benar darinya. Ia mengadakan, menciptakan keadaan kepercayaannya untuk menjadi rasional, benar dan beralasan. Ini sebuah kekuatan dari percaya. Dan dalam psikoanalisis ini disebut “rasionalisasi”.

Ketika manusia telah percaya pada sesuatu, dewa, agama, tuhan, pemimpin, nabi, negara. Maka ia selalu menciptakan rasionalisasi, terhadap apa yang ia percayai, menjadi benar adanya, tanpa salah sedikitpun. Bagaimana, manusia mempersonifikasi tuhan, memberikannya sifat sifat manusia, memberinya kesadaran: menciptakannya. Dan sampai hari ini masih lestari, berserakan di mana mana. Tak lebih dari cerita karangan kancil nyuri timun. Tapi, mereka tetap membutuhkan “bius” yg memabukkan itu. Merasionalisasikannya, menjadikannya nyata, melembagakannya.

Cocologi itu rasionalisasi. RT @Ardysura@Agamajinasi beda rasionalisasi dgn cocologi apa? Klo liat penjelasan mu min kayaknya mirip..

Percayalah. Kebebalan yg kau rasionalisasikan itu, bukan hanya urusan pribadimu. Tapi juga tragedi untuk orang lain di sekitarmu. Bagaimana mereka mencoba merasionalisasikan apa yang ingin mereka percaya dan benci?

“Stalin dan Mao adalah atheist yang membantai manusia” – atheist itu setan.

Inipun adalah upaya merasionalisasikan, apa yang selama ini mereka benci, agar kelihatannya “agama” itu baik baik saja. Toh, atheist seperti Stalin atau Mao juga membunuh. Yah, agama kalo punya sejarah genosida wajar wajar saja. Di dalam konteks religius, pemimpinnya adalah Tuhan. Otoritasnya adalah nabi, dan ideologinya adalah agama. Ini tidak boleh dipertanyai, naik banding dan harus patuh 100%, apa yg otoritasmu katakan. Kedengarannya, agama mirip sekali sama Stalin dan Hitler. Dogmatis, dengan dogma dogma dogmanya. Kekuasaan nabinya, Tuhannya, yang belum hilang bahkan masih subur sampai sekarang ini, dan ulama yg sembunyi di baliknya. Sehingga, kalau kamu mau bicara Stalin, nabimu itu Stalin bertuhan. Totaliter. Dan surga itupun sendiri, sungguh sangat totaliter.

Dan atheist seperti saya, yang menolak dogma, perintah dan berpikir untuk dirinya sendiri, paling extreme nyampur teh. Karena, apa yang dilakukan Stalin itu, persis itu juga apa yang sedang dilakukan agama. Beda ideologi saja.

 

Compiled by: Kal Festino (twitter @kalfestino)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s