hidup setelah kematian

Standard

Terus? :) RT @davidarizqi@Agamajinasi ntah komunis,liberalis atau bahkan atheis tidak akan menawarkan kehidupan abadi.kita pasti mati

Tidak ada janji apa-apa, jika kamu membunuh tuhan di dalam kepalamu. Tapi, Kehidupan, kebebasan, pikiran, seharusnya jadi milikmu. Sudah seharusnya, kebebasan pikiran itu kamu claim kembali, dari tuhan imaji yang sedang menguasai pikiranmu itu. Lupakan surga, neraka, kutuk dan berkat. Bunuh tuhan, ubek dia di dalam air tahi dan kencing.

Di antartika, neraka itu dingin kali yah. Surga itu panas. RT@zackyachmed: Neraka berasal dari budaya timur tengah krn mmng disana panas

Kenapa harus menunggu mati? Kenapa kamu tidak cepat2 mati saja? RT @davidarizqi@Agamajinasi mana jaminan kebahagiaanku setelah mati??

Agama jamin kalo mampus dapet bidadari dan hidup kekal. Yang buktiin itu bener siapa? Kayak bualan orang jualan obat di pasar. Mau bahagia kok nunggu mati. Kamu yg menghidupi hidupmu. Kenapa harus menunggu mati? Mentalitas agama. Selalu mengharapkan imbalan, tapi berkoar soal ketulusan dan kasih. Bualanmu makin bau tak tertahankan.

Bersedia atheis asal setelah mati bisa bahagia. | Baca: yg mana aja gue gak masalah, asal untung. Loe kata dagang di pasar? Agama bagimu tidak lebih hanya secarik kuitansi untuk menagih janji nanti setelah mati. Munafik!

Setelah mati ya dikubur atau dikremasi. Mau ke mana lagi? RT@EKOPRST: Emang setelah mati lu kemana?

“Min setelah mati lu ke mana?” | Eh nyong, emang lu kalo mati ke mana? Ke surga? Tau dari mana? Diboongin kok mau aja. GAK ADA seorangpun yg tau setelah mati roh kita bakal ke mana. Kalo yg MENGAKU tau sih banyak, iya nabimu salah satunya. Ngomong soal roh. Apa sih itu roh? Coba definisiin dan buktikan keberadaan roh. Roh aja belum tentu ada, apalagi surga!

@Agamajinasi dongeng surga adalah senjata ampuh buat nge-pukpuk orang yang hidupnya sengsara biar nggak banyak protes :D

Hidup setelah mati? Zombie? Kalimatnya aja absurd. RT@EKOPRST@Agamajinasi brarti situ ga percaya sama kehidupan setelah mati?

Masuk liang kubur. RT @monicalimboro: Kalau lu mati masuk mana?

Tempat imajiner, sama kayak Konoha Village atau Gotham City. Khayalan. RT @ijhonkvan: Surga itu apa min?

“Kemana kamu setelah mati?” Pertanyaan ini sepertinya jadi pertanyaan andalan kaum agama buat atheis. Mereka pikir mereka punya sesuatu yang atheis tidak punya dan bangga dengan hal itu.  Saya tidak tau dengan kamu, tapi dulu saya memikirkan pertanyaan tersebut bertahun-tahun. Kalo kamu pikir saya tidak mau percaya ada kehidupan setelah kematian, kamu salah besar kawan. Siapa sih yg gak mau menjalani hidup selamanya dengan orang2 yg kita kasihi?

Dan jujur, sebesar apapun keinginan saya tentang hal tsb, saya lebih menginginkan memperoleh kebenaran. Apa saya harus percaya kesaksian orang-orang yang hampir mati? Maunya sih begitu. Tapi di tiap agama ada orang-orang yang seperti itu. Kalo di tiap agama ada kesaksian soal kematian, gak mungkin semuanya benar kan?

Pernah berdoa, berpuasa berkali-kali. Gak mungkin yg namanya tuhan gak kasih jawaban kan? Apalagi utk urusan akhirat. Beberapa kali pernah berpuasa, serasa mengarungi alam lain. Orang bilangnya dunia ruh, dimensi ke empat, alam gaib. Setelah belajar fisiologi di kuliah baru sadar, siapapun yang puasa beberapa hari memang mengalami efek halusinasi. Efek halusinasi yg mirip sewaktu orang mengkonsumsi mushrooms, cimeng, lsd atau ecstasy. Jadi apa bedanya?

Apa kamu pikir saya tidak takut, ketika mendapati semuanya ternyata hanya imajinasi belaka? Saya takut sekali, kawan. Bukan hanya takut. Tapi limbung; mendapati semua yang saya imani tampaknya seperti kesia-siaan. Bahkan ketakutan saya rasanya jauh lebih besar daripada ketakutan seseorang yang mendapati ortunya bukan ortu biologis dia.

Saya mengerti arah pertanyaan-pertanyaan dari orang-orang soal tujuan hidup, soal kematian, soal kehidupan setelah kematian. Karena halhal tersebut dulu saya pertanyakan juga, bahkan saya alami. Jadi kalo coba utk bikin saya tobat, tolong pikirkan lagi.

Jadi apa yg harus saya lakukan selanjutnya? Terjebak dalam nihilisme, bagaikan terjebak dalam mimpi2 di film Inception? Atau harus berani melangkah, walaupun itu artinya banyak paradigma yang harus berguguran setelah dibangun bertahun-tahun? Di poin itu saya udah gak peduli kata orang. Mau dibilang sok anti mainstream, sok tampil beda, sok pinter, silakan. Ini bukan lagi ngomongin identitas saya di mata orang lain, tapi udah masa depan saya sendiri. It’s so personal.

“Jadi kalo semuanya itu gak ada, kenapa gak mati aja lo?” Sabar kawan, itu juga pertanyaan saya. Dan dari pertanyaan tersebut saya akhirnya sadar, atheis ternyata lebih beriman dari theis. Lah kok bisa? Bukannya atheis sama sekali gak punya iman? Kenapa bisa dibilang lebih beriman?

Sekarang jawab jujur, mana yg lebih mudah ngerjainnya, ngerjain sesuatu dengan imbalan, atau tanpa imbalan? Terlepas dari imbalannya nyata atau palsu, ngerjain sesuatu dengan dijanjiin imbalan tentunya mudah.

Atheis menjalani hidup itu artinya masih ada orang-orang yg mau ngerjain sesuatu tanpa dikasih imbalan sama sekali.

Ketika kamu masih ngomongin surga, dan pahala, ada orang-orang di luar sana yg sudah berhenti memikirkan semuanya itu.

Ketika kamu masih ngomongin sorga dan pahala, ada orang-orang di luar sana yg menganggap hidup sekarang ini adalah surga dan pahala.

Ketika kamu ngerjain sesuatu karena berharap imbalan, ada orang-orang di luar sana yg tau berbuat baik adalah kesempatan sebelum mati.

Ketika kamu anggap memorimu bisa dilanjutkan setelah mati, ada orang2 di luar sana yang menghargai memori sebagai pahala hidup.

Jadi kawan, saya atheis karena menghargai hidup. Yang sekali berarti setelah itu mati. Pernah denger lagu “Memory”? Dulu waktu jadi theis saya cuma anggap lagu ini bagus, tapi gak ada yg special di liriknya. Sejak saya menyadari harus menjalani hidup yang sekali ini setelah itu sirna tanpa jejak, saya sering nangis dengernya.

Dengerin lagunya deh, dan tersenyumlah bersama saya :) https://t.co/I6bmRi00

Yes, we respect our memories so much that no promises of afterlife could replace them.

Compiled by: Kal Festino (twitter @kalfestino)

One thought on “hidup setelah kematian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s