Bagaimana Otak Menjadi Tuhan

Standard

Selama 10.000 thn sejarah peradaban manusia, manusia menciptakan lebih 10.000 kepercayaan/agama dengan lebih dari 1.000 tuhan. Kemungkinan Amun Ra adalah tuhan yang sesungguhnya probabilitasnya sama dg Zeus, Osiris, Allah, Yesus, dan +900 tuhan lainnya.

Otak manusia selalu bekerja untuk mencari reason/jawaban/penyebab dari segala sesuatu yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Dan tuhan adl jawaban ultimate dari semua pertanyaan yang tidak mampu dijawab dari sejak jaman manusia pake koteka. Penyembahan kepada sosok yang ultimate ini mengisi kekosongan jawaban yg dibutuhkan (god of the gaps), selain itu penyembahan memberikan sensasi kenikmatan tersendiri.

Dopamine sebagai neurotransmiter pada otak salah 1 “senyawa kimia” yg memegang peranan penting dlm sejarah kepercayaan peradaban manusia. Dopamine, diproduksi oleh otak sebagai senyawa (reward system) yang memberikan efek kepuasan “batiniah” & sensasi rasanya menyebabkan kecanduan. Manusia jaman sekarang tidak bisa lepas dari evolusi biologis, behavior genetic dan peradaban yg terjadi puluhan ribu tahun. Dopamine ini pun diturunkan, dibawa oleh gen dg kode DRD4 yg terdapat dalam kromosom. DRD4 inilah penyebab manusia selalu membutuhkan sosok yg ultimate untuk kebutuhan kepuasan rasa aman dan candu spiritual. Sosok tersebut bisa tuhan yg mana saja, prinsipnya sama saja. Apa yg kamu percayai sekarang sebagai bentukkan dari evolusi otak selama bertahun-tahun.

Apakah hanya dopamine? Pastinya nggak! Cuma kalau dibahas keseluruhan bisa 2 tahun baru selesai kultweetnya.. XD

tuhan yg kamu percaya sekarang karena otak kamu ditanamkan kepercayaan itu bahkan sejak kamu masih bayi. Jika kamu lahir di abad yg bebeda, besar kemungkinan kamu hanya akan mengikuti kepercayaan mayoritas saat itu. Kalau kamu lahir di lingkungan keluarga yg mayoritas kristen, maka kamu akan menjd kristen. Ketika kamu lahir di keluarga yg mayoritas islam maka kamu akan menjadi islam. Apa yang tertanam dalam sistem kerja otak ini tersimpan dalam memori unconsciousness melekat kuat, karena itu sulit bagi orang-orang yang sudah percaya untuk menjadi tidak percaya secara logis.

Pengalaman spiritual adalah proses ‘delusi’ otak, ketika kamu sudah fokus dan percaya terhadap sesuatu, otak kamu akan mencari alasan pendukung dari apa yg kamu percayai tersebut dan kamu anggap logis (padahal kagak). Semakin kamu fokus percaya pada sesuatu, memori tersebut semakin akan kuat terekam dalam neurotransmiter otak dan menerjemahkan apa yang kamu percaya sebagai realita.

Ketika kamu melakukan aktivitas spiritual temporal lobes bekerja dan mempengaruhi limbic system. Limbic system bekerja tidak hanya terhadap suara, bau, ilusi penglihatan tapi juga emosi dan ingatan. Didukung dg Serotonin System sebagai neurotransmiter, proses kimia tubuh, peyote, LSD dan ragam candu lainnya dikendalikan dalam 1reseptor yg terpusat di otak.

Apakah Paulus benar mendengar Yesus ketika perjalanan ke Damascus, atau dia mengalami halusinasi visual dr otak? Bagaimana Joseph Smith dengan dua malaikatnya? Muhammad? Joan of Arc? Musa ketika melihat api tuhan?

Jika “tuhan” yang maha agung tersebut hanya mengunakan temporal lobes untuk menyatakan dirinya, membuat ilusi spiritual dirinya, maka para neuroscientist bisa menjadi tuhan.

Tuhan itu absolut, nyata dan eksis.. Benar! Abosulte, nyata dan eksis diciptakan oleh otak manusia!

2 thoughts on “Bagaimana Otak Menjadi Tuhan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s