Falsifikasi Pernyataan

Standard

Terus menerus mengeluarkan pernyataan yang gak bisa difalsifikasi gak bikin itu jadi benar, nak.

“Kamu tuh sebenernya homo, tapi denial berat sampe ke tahap gak sadar”

“Kamu tuh sebenernya suka si desi, cuma kamu terlalu malu sampai akhirnya kamu benci dan kamu gaplokin dia”

Pernyataan pernyataan seperti itu gak bisa difalsifikasi, jadi gak memiliki kebenaran ilmiah. Hanya pembenaran sepihak. Saya gak pernah ngeklaim tuhan gak ada, tapi sejauh realita bicara, gak ada bukti tuhan. Jadi saya gak percaya. Simpel kan? Berhentilah menggunakan kata “sejatinya” seakan akan kamu telah menemukan dan memahami kesejatian itu sendiri. Kesejatian hanyalah ilusi. Sebuah titik semu dari romansa pencarian tanpa akhir. Ketidakmampuan berdamai dengan diri sendiri.

Posisi ateis tidak percaya atas KLAIM YG DIBERIKAN TEIS (tuhan ada). Jadi beban pembuktian ada pada pembuat klaim.

“Jadi bukti apa yg anda minta?”

jelaskan lebih dahulu definisi dan karakteristik tuhan. Baru karakteristik bukti bisa dibuat.

“Tuhan maha kuasa”

pembuktian simpel saja, suruh dia lakukan hal tidak alami. e.g, munculin gunung dalam sekejap

“Dzat gak kasat mata”.

suruh dia kasih jalan agar bisa dideteksi langsung indera lain, bukan di senyum anak kecil, keindahan alam.

“Tuhan tak terbatas”

Suruh dia datang dan pecahkan “paradox tuhan” buatan ibn sina.

Banyak kaum agamawi mengira, ketidakpercayaan terhadap agama itu datang dari ketidaksukaan dan kebencian. Sayang seribu sayang, hanya karena seseorang memperlakukan orang lain seperti itu, bukan berarti orang lain juga berpikiran yang sama. Ketidakpercayaan awalnya bisa datang dari percaya. Dari dalam. Membiarkan agama mengambil alih tugas otak anda. Sehingga anda percaya.

Anda tidak diperkenankan untuk berpikir kenapa sesuatu bisa terjadi secara “ajaib”. Pokoknya percaya saja. Anda tidak percaya bualan tukang obat di pinggir jalan. Tapi anda percaya bualan pemimpin dan kitab suci agama anda. Aneh, bukan? Pernahkah anda merenung kenapa anda percaya? Apakah anda percaya begitu saja kata kitab suci anda bahwa anda percaya karena berkah tuhan? Pernahkah anda berpikir untuk melangkah ke luar dari gua, namun takut karena kata orang2 di dalam gua, begitu anda di luar anda akan mati? “Lihat itu kisah Adam dan Hawa, kisah istri nabi Lut!” Anda diancam bahwa anda akan mati begitu tidak percaya. Aneh, bukan?

Mungkin ada di antara anda yang masih ingat pengalaman menjejakkan kaki ke luar negeri? Momen yang tidak bisa dilupakan. “Begini toh rasanya di luar batas negara Indonesia. Menghirup udaranya. Menyentuh tanahnya.” Mungkin itu yang ada di pikiran anda saat itu. Dapatkan momen itu, kawan. Keluar dari gua yang gelap itu. Mulai berpikir untuk diri sendiri. Rasakan bedanya. Nikmati hangatnya matahari.

Tidak. Anda tidak akan mati. Cuma tuhan yang insecure yang sukanya mengancam umatnya.

Advertisements

Perkawinan dan Undang Undang Patriarki

Standard

Dalam sebuah hubungan, menurutku, yang terpenting adalah hubungan dan komitmen antara dua orang yang menjalaninya. Menikah itu sendiri kan sederhana. Antar dua orang yang saling suka yang ingin berkomitmen. Yang bikin urusan nikah jadi ruwet adalah ketika agama ikut campur tangan di dalamnya. Agama sendiri yang bikin rumit, hubungan antar dua orang. Yang jenis itu dilarang, yang jenis itu disetujui.

Pernah dengar kan? Penangkapan dua orang yang lagi berdua duaan. Entah satpam yang nangkep, masyarakat, agamis. Apa salahnya, dua orang saling suka, tidur sama sama, tanpa pemaksaan dan pemerkosaan? Apa dasar dari hukum yang mempersalahkan dua manusia untuk tidur sama sama, dengan didasari kemauan dan inisiatif sendiri?

Menurutku, sex antar dua orang itu sah sah saja. Asalkan didasari dan dilakukan dengan tanggung jawab. Lebih baik dilakukan dengan tanggung jawab, daripada dilegalkan atas nama “agama” tapi menyakiti yang lain.

yang terjadi saat ini adalah: orang menggunakan hukum hukum primitif, untuk menjustifikasi keinginan penisnya. Pembodohan dan keterbelakangan. Manusia lebih suka menjadikan buku usang sebagai panduan, daripada rasio dan logikanya untuk menilai. “Tapi kita kan beriman, kita tidak sama dengan binatang”. Aku ingin katakan, iman yang sedang dipakai itu maha dablek.

Ayolah, jawab dengan jujur. Apa yang ada di otak kalian jika seorang wanita berpoliandri? Bukankah, jika laki laki bisa berpoligami, maka wanitapun punya hak untuk berpoliandri? Sekalipun suami berteriak “gak rela! Gak rela!” dan pingsan di kamar mandi, tapi seorang wanita punya hak menjadi Drupadi.

Poliandri dilarang oleh agama kan? Iya kan? Ia bakal dicap rendah, serendah rendahnya, najis senajisnya. Bagaimana kalau seorang pria berpoligami? Mulia sekali pria itu. Pejantan dengan syarat berat: berlaku adil. Kenapa seorang perempuan berpoliandri, stigma masyarakat meletakkan dia sebagai seorang pelacur? Dan ketika seorang pria berpoligami, ia tidak pernah disamakan dengan seorang gigolo?

Ini ada hubungannya dengan agama, yang malah menumbuh suburkan budaya patriarki. Termasuk budaya poligami ini. Perempuan hanya bisa nangis dalam kamar dan mengikhlaskan suaminya berpoligami. Tanpa perlawanan sedikitpun. Bagaimana tidak? Semua dikait kaitkan sama tuhan.

Dalam poliandri, pertanyaan yang muncul adalah, laki laki mana yang telah menyumbangkan cipratan spermanya. Seperti dalam cerita agama hindu, pandawa lima beristrikan seorang wanita bernama Drupadi. Perempuan menentukan dengan siapa ia akan tidur. Anak siapa pula yang ingin dibuahi. Dan jika, laki laki punya sejuta alasan untuk berpoligami, perempuan juga punya sejuta alasan untuk berpoliandri.

Kalau kita lihat budaya di tibet dulu, seorang perempuan bisa memiliki dua suami, yang terdiri dari ayah dan anaknya. Atau, bisa saja seorang perempuan memiliki suami yang sama dengan anaknya. Poliandri di tibet dulu, dilakukan atas dasar, jumlah perempuan yang lebih banyak. Juga untuk menjaga populasi agar tidak banyak. Dengan populasi yang tidak banyak, mencegah terjadinya kelaparan. Tetapi, ada juga yang mengatakan, agar harta keluarga (tanah) tidak terbagi bagi menjadi milik banyak pihak.

Seperti bagaimana, parlemen Nunberg yang pada tahun 1650, mengijinkan seorang laki laki boleh menikahi 10 perempuan. Karena, banyak sekali laki laki yang mati pada saat perang. Tidak ada bedanya dengan Muhammad juga sebenarnya. Dia punya istri banyak dan karena dia juga adalah penguasa politik pada saat itu. Apa yang dilakukan muhammad tidak ada bedanya dengan soekarno. Mau pake pembelaan macam apapun itu.

Intinya adalah, urusan poligami/poliandri, memiliki latar kesejarahan dan alasan di belakangnya. Hanya, yang membedakan adalah, ketika hal hal tersebut mulai diseret seret dalam urusan keagamaan. Sehingga, usulku adalah, tidak perlu bawa bawa agama dalam urusan kawin. Bahkan, urusan poligami/poliandri. Bukankah lebih mudah, jika agama tidak ikut campur di dalamnya? Permasalahannya adalah: Agama menyangkut kepercayaan supra natural, yang gaib, antah berantah, mistis. Tapi, agama menuntut kepatuhan dari manusia tanpa syarat, tanpa naik banding, tanpa dipertanyakan.

Kalaupun mau ada aturan yang mengaturnya, lebih baik dibuat dengan konteks kesejarahan dan regional sekarang, disertai dengan alasan dan argumen yang jelas. Yang dapat diperdebatkan, dipertanyai dan diukur menggunakan nalar. Bukan hanya berdasarkan, kata kitab suci yang maha dablek itu tadi. Sehingga, ketika seorang ulama memberikan penisnya jatah vagina tambahan dengan alasan agama, yang menuntut kepatuhan, karena mau mencontohi sang nabi, istri istri tidak terbelenggu oleh kitab dablek, dan berani berkata “fuck off”.

Agama ini sekali lagi, menyuburkan patriarki, dan menipu perempuan mentah mentah. Karena, laki laki punya segala macam hukum kitab suci yang bisa melegalkan dirinya mendapatkan vagina baru. Dan perempuan, cuma bisa nangis menunjukkan ketidak setujuannya berbagi penis dengan perempuan lain. Bukankah itu sangat jelas menunjukkan sifat subordinasi perempuan?

Lebih jauh lagi, agamapun punya hak untuk melarang homosexualitas. Begitu perkasanya agama kalau mulai campur tangan. Bukan cuma sekedar melarang, namun menghukum. Luar biasa sekali agama itu.

Kesimpulanku, urusi urusan penis dan vagina dengan rasional menggunakan rasio dan nalar, secara bertanggung jawab. Bukan diurusi berdasarkan buku usang yang sesat, juga purba, primitif dan kadaluarsa itu.