Bukan Siapa Melainkan Apa

Standard

Setelah ribuan tahun, agama campur tangan dalam urusan “berpikir”. Manusia nyaman menjadi pasif dan diobjectkan. Mereka lebih senang, mempunyai sosok untuk dijadikan panutan, yang bisa diamini, tinggal ikut doang dengan mental mengekor. Sehingga, orang yang berani berpikir menjadi langka. Bahkan sudah hampir punah, karena terbiasa mempunyai mental kacung. Dalam kenyamanannya, ia mulai meraih raih, kira kira siapa arwah nenek buyutnya yang ngetwit di account ini. Supaya bisa dia lembagakan dan kembali diperkacung oleh sosok imajiner di dalam kepalanya. Berhentilah menjadi dungu. Maka, otaknya tinggal tunggu dimumikan, jika berbicara dan berpikir untuk dirinya sendiripun ia masih membutuhkan sosok.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s