Bukan Siapa Melainkan Apa

Standard

Setelah ribuan tahun, agama campur tangan dalam urusan “berpikir”. Manusia nyaman menjadi pasif dan diobjectkan. Mereka lebih senang, mempunyai sosok untuk dijadikan panutan, yang bisa diamini, tinggal ikut doang dengan mental mengekor. Sehingga, orang yang berani berpikir menjadi langka. Bahkan sudah hampir punah, karena terbiasa mempunyai mental kacung. Dalam kenyamanannya, ia mulai meraih raih, kira kira siapa arwah nenek buyutnya yang ngetwit di account ini. Supaya bisa dia lembagakan dan kembali diperkacung oleh sosok imajiner di dalam kepalanya. Berhentilah menjadi dungu. Maka, otaknya tinggal tunggu dimumikan, jika berbicara dan berpikir untuk dirinya sendiripun ia masih membutuhkan sosok.

Advertisements

Hate Speech

Standard

Saya sendiri tidak yakin, apa itu “hate speech”? Di mana batasannya, sebagai sebuah speech yang menyebarkan kebencian? India, melarang pendapat yang menyakiti agama ataupun ras/kesukuan. Canada melarang pendapat yang bertujuan mengolok olok. Di Belanda, dianggap melanggar hukum jika seseorang dengan sengaja menghina group tertentu.

Karena tidak konsistennya batasan dari “hate” sendiri, definisi hate speech sangat berbeda beda di setiap negara. Sesuatu yang dianggap orang lain “menghina”, belum tentu “menghina” untuk yang lain. Mempertimbangkan bahwa, “hate” itu tidak jelas batasannya, dan tidak berdiri sendiri. Maka hate speech tidak ada salahnya.

Selama, speech tersebut tetap menjadi speech saja dan tidak menjadi sebuah aksi kekerasan. Hak seseorang untuk mengeluarkan pendapat, tetap tidak boleh dibelenggu, dengan syarat: suara tandingannya juga tidak dilarang.

Dan, siapa yang mendefinisikan “kebencian”? Bukankah selama ini kita hidup di tengah tengah kebencian yang dilegalkan? Sekian lama kita hidup di tengah tengah kebencian rasialis, yang malah disuburkan, bahkan masih bertahan sampai hari ini. Bahwa kita juga hidup, ditengah tengah kebencian terhadap lesbian dan homosexual, yang dilegalkan oleh kitab suci. Dalam hal ini, sesuatu yang mengandung kebencian, tidak dianggap “kebencian” asal diterima oleh orang banyak.

“Hate speech” adalah sesuatu yang subjectif. Cukup sulit, untuk menjudge, apa itu hate speech. Sampai mana batasannya. Jika, artian hate speech adalah olok olok belaka dan tidak mengandung kebenaran, perlu dilakukan penelitian terlebih dahulu. Proses penelitian diperlukan pengajuan tesis, yang mana akan jadi sama dengan hate speech lagi.

Apakah, dengan melarang sesuatu yg dianggap “hate”, akan menghilangkannya? Tidak. Sebenci bencinya saya pada Ku Klux Klan atau sentimen rasialis anti tionghoa, saya juga punya hak bicara untuk menentangnya.

Kenyataan yg terjadi di Indonesia, pelarangan “penghinaan” agamanya sendiri. Tapi, dia sendiri malah menyulut kebencian. Dan, kebencian tersebut, bukan cuma “speech” melainkan menyebar menjadi sebuah aksi kekerasan. Sungguh menyedihkan.

Umat Dua Muka

Standard

Jangan hina nabi kami!
Tapi, nabi agama lain, boleh dihina. Soalnya agama kami paling benar.

Amerika dan zionist yahudi penjajah!
ketika Israel dan Amerika tergelincir, Islam akan menguasai dunia!

itu manusianya, bukan agamanya.
Hitler itu katolik. Hitler itu pembantai. Begitulah agama kafir.

Masya awloh. Begitu bencinya kafir kepada islam.
hancurkan amerika! Ada orang Zimbabwe yg hina nabi!

Islam itu toleransi. Membebaskan manusia untuk percaya.
Murtad itu mesti dihukum mati.

Islam itu menghargai yg agama lain
Asal kafir kafir tunduk dibawah system khilafah. Mereka nggak diperangi.

A Fly Is Making Another Insult To The Holy Prophet

Aside

From the scale a fly making funny face at you to a film insult your prophet, how hurt is your feeling hurt, my dear?

 Muslim harus banyak belajar, ada perbedaan antara “orang yang tinggal di Amerika” dan Amerika. Ketika seseorang di Amerika membuat film mengenai Muhammad, bukan berarti seluruh warga Amerika ikut bertanggung jawab.

Baru baru ini, kita kembali dihebohkan oleh film Innocence of Muslims. Muslim menuntut pemerintah Amerika meminta maaf. Yang bikin film siapa? Kok pemerintah Amerika yang disuruh minta maaf? Yang bikin film siapa? Yang diserang Konsulat us, yang harus minta maaf obama. SBY ngalah ajalah, minta maaf, demi slemot slemot ini.

Bahkan yang mati terbunuh tidak ada hubungannya dengan film tersebut. Seperti kasus karikatur Muhammad oleh Jyllands-Posten tahun 2005 yang silam. Dimuat di Jylland Posten, kok McDonald yang dibakar? Mereka Membutuhkan wujud nyata dari ideal yang ditanamkan, “islam tak henti hentinya dizolimi sama kafirun”. Yang terbesit? Amerika!

Satu satunya cara, membalas argumen adalah dengan argumen yang lebih baik. Bukan bakar, bunuh, ngelarang, blokir. Melarang adalah tanda tersinggung, menerima apa yang disampaikan di film itu, karena tidak bisa dibalas dngn argumen yg lbh baik.

Menkominfo Tifatul juga ketularan rupanya. Meminta google dan Youtube memblokir film tersebut. Kata Tifatul, “Seperti Anda ketahui, duta besar & empat staf kedutaan Amerika di Libya tewas, saya pikir ini sangat sensitif.”

Lantas, karena seseorang tersinggung nonton film, itu membenarkan dia melakukan pembunuhan dan pembakaran? Tidak seharusnya seseorang mati karena sebuah film! Jika, pembunuhan dibenarkan, karena tersinggung oleh sebuah film, entah apa jadinya dunia sekarang. Daripada, melarang, sebaiknya orang Indonesia didewasakan, bagaimana menerima pendapat, dan informasi seperti itu.

We deal with it everyday! Grow up! Bisa dibayangin? Kalo orang ngebunuh karena tersinggung sama “yo momma joke”? Apa hanya karena kamu tersinggung sama “yo momma joke”, joke joke serupa mesti dilarang?

***

Rakyat pernah diprovokasi kampanye basi, yang mengatakan “kristen, intinya kafir dan cina nggak boleh jadi pemimpin”. Kira kira, pernyataan seperti itu menyakiti hati orang nggak? Tapi, pernah liat masjid dibakar? Rasanya, nggak.

Di amerika, tidak ada yang perduli sama film yang sedang kalian ributkan. Film itu disorot, karena kalian ributkan. Lagipula, penistaan agama itu sungguh subjectif. membayangkan muka muhammad waktu sembelit mencret mencret, bisa jadi penistaan banget.

Bukan content yang harus dilarang, tapi sikap menanggapi informasi yang harus dirubah. Jika, sikap barbar seperti ini dipelihara, tidak perlu Darth Vader untuk memprediksikan apokalips.

There is nothing more humane, than reconigsing the idiocy of one’s view and at the same time, his right to express them.

Ngitung Ngitung Untung Rugi

Standard

Apa untungnya jadi ateis? Apa ruginya jadi ateis? Ini pertanyaan kelewat basi yang masih aja suka dipajang dengan konsisten. Menurut saya, pertanyaan ini biasanya dipake kalo udah nyerah nggak bisa ngebuktiin keberadaan tuhannya.

Sungguh sempit, pemikiran seperti ini. Sepanjang hidupnya cuma jadi pengemis surga. Lebih sempit lagi, dia bahagia kalo semua yg di luar PT agama masuk neraka. Demi memuaskan egonya mengenai tuhan.

Untung jadi ateis, nggak kayak teis yg sepanjang idupnya nggak ada kerjaan lain selain nyembah Tuhan. Gimana kalo saya masuk neraka? Saya mau nanya balik, gimana kalo yang membawa Anda ke surga bukan agama Anda tapi agama tetangga?

moralitas dan agama

Standard

Bigot gak ngerti yg namanya moralitas, yg mereka ngerti cm “boleh atau tidak.” Moralitas bukan hal yg suci atau ajaib, itu salah satu mekanisme survivalitas makhluk hidup. Banyak makhluk yg menunjukkan moralitas, gak cm manusia. Contohnya banyak, saya ks contoh kecil : leopard saja bs menyelamatkan bayi baboon http://www.liveleak.com/view?i=c0e_1285284232 …

Moralitas itu juga dinamis, berkembang sesuai jaman dan situasi, bahkan beragam di setiap daerah. Contoh simpel : Di barat poligami adalah imoral, di timur poligami biasa2 saja. Contoh simpel : jaman dulu perbudakan rasial itu gak apa2, skr dianggap gak bermoral.  Gak butu petunjuk langit agar manusia sepakat tidak saling bunuh dan memperkosa agar kualitas hidup lb baik. Logis koq. So, moral itu sudah berkembang jadi konstruksi sosial, dan tujuannya untuk kelangsungan dan kualitas hidup komunitas. Hanya saja agama “mencuri” moralitas, dan mengklaim hal tsb sebagai miliknya. “Penipuan” massal terjadi.

Problem dr moralitas agama adalah, stagnan, kaku dan tidak boleh dirubah. Dan pada dasarnya, moralitas agama tidak menyisakan logical reasoning, hanya “boleh atau tidak”. Eksperimen sederhana : jika anda muslim, akankah anda makan babi, jika babi itu aman dikonsumsi, bahkan sehat? Agama hanya bs beradaptasi menggunakan intepretasi bebas utk “melangkahi” larangan, atau pakai ayat lain, kayak dunia hukum. Lucu, interpretasi membuat agama terlihat seperti dagelan inkonsistensi. Dan pengartian literal membuatnya jd kuno dan gak relevan. Karena inilah, moralitas agama makin tertinggal dan gak relevan sama perkembangan jaman. Dan pada titik tertentu, moralitas agama malah menjadi penghambat perkembangan jaman. Contoh nyata : cewe diperkosa, lapor polisi malah dipenjara (hukum syariah), anda perlu justifikasi canggih utk gak bilang itu GILA. Sudah begitu, tanpa tahu malu agama selalu mengklaim sebagai last defense of morality. Seakan2 moralitas adalah milik mereka. So, sebelon kamu yg punya agama ngeledek saya gak bermoral, plis ngaca dulu, kamu gak lebih dari badut munafik.

“If people are good only because they fear punishment, and hope for reward, then we are a sorry lot indeed” – einstein

Revolusi

Standard

Revolusi yang sejati, hanya lahir dari sebuah kecelakaan sejarah.

Perbudakan pikiran, perbudakan mental. Perbudakan tetap saja perbudakan, dan yg diperbudak tetep saja budak.

Karl Marx berkata: “The philosophers have only interpreted the world in various ways. The point however is to change it”. Point terpenting yakni mendobraknya, mendorong kebusukan jaman dan mengubahnya.