Obral Maaf

Standard

Di negara maju, seperti eropa, jepang, maaf diucapkan tanpa ada perasaan malu untuk mengaku salah. Bahkan, mereka meminta maaf untuk urusan kecil, sepele seperti menyenggol orang atau kejadian kecil lainnya. Sekalipun, kata maaf adalah hal yang umum. Namun kata maaf itu setidaknya ada maknanya.

Berbeda dengan kita di indonesia. Tidak ada makna dibalik “maaf”, kecuali latah. “Maaf” jadi hobi, kalo Idul Fitri. Apalagi, kalo alasan meminta maaf bukan untuk meminta maaf, tapi hanya untuk menyucikan diri. Padahal, seharusnya maaf itu sendiri lebih berguna untuk individu yang mengucapkannya.

Menurutku, ada yang salah dengan tradisi meminta maaf secara membabi buta ini. Untuk apa mengobral kata maaf, bahkan pada orang yang belum tentu merasakan kesalahan kita. Ini malah melemahkan, kata dan makna “maaf” itu sendiri. Kalau tidak salah yah tidak perlu minta maaf. 

Di mana mana, bahkan iklan di tv pun bergentayangan permintaan maaf. Memangnya mereka salah apa, apa yang harus saya maafkan? Ada lagi, maaf yang diobral melalui broadcast message. Walaupun, itu sudah benar. Broadcast messagenya mengganggu. Perlu dimaafin.

Orang orang sepertinya merasa suci lagi setelah meminta maaf. Tapi bagaimana kalau yang dimintai maaf itu tidak memaafkan? Apalagi, kalau yang dimintai maaf itu tidak mengerti, kesalahan apa yang harus dimaafkan.

Jangan mengobral kata maaf, tanpa tau kesalahan Anda. Katakanlah maaf, kalau memang salah dan Anda menyesal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s