Tiga Kritik terhadap Agama; oleh: Syarif Maulana

Standard

Kau tahu, menulis posting ini tidaklah mudah. Pertama, tidak semua orang senang membicarakan agama sebagai bahan kritisi. Ini untuk mereka yang yakin betul bahwa agama berasal dari Tuhan, dan Tuhan adalah kebenaran yang tak terdebatkan. Kenapa? karena mereka menganggap Ia berada di luar wilayah pemahaman manusia, dan cuma bisa dicerap oleh rasa percaya alias iman. Kedua, tidak mudah juga mengkritisi agama, jika kau adalah bagian yang lekat darinya berpuluh tahun lamanya. Ini sama saja dengan mendadak berbicara lancang pada orangtuamu, -yang telah membesarkan dan menyekolahkanmu dari kecil- memberinya komentar dan saran tentang bagaimana cara membesarkan anak yang baik, padahal kau belum punya anak. Tapi kelancangan tak selalu soal benci, adapun justru karena kau sayang. Kau sekedar ingin menunjukkan pada orangtuamu:

Mah, Pah, ini aku, sudah kau sekolahkan, dan ini ilmunya kugunakan, untuk berbagi sesuatu yang mungkin saya tahu dan kalian tidak tahu, sebagaimana halnya kau sudah memberikan banyak hal yang kau tahu dan saya tidak tahu. Karena, o, kendati kalian hidup lebih lama, tapi pengalaman indrawi kita berbeda.

Begitulah, meski ada niat saling memperkaya, tapi selalu saja ada tendensi yang berbeda. Tuduhan lancang, tak tahu diuntung, durhaka, atau bodoh, pastilah ada. Hanya saja, ini niat saya, bahwa saya mengajukan kritik ini karena rasa cinta saya terhadap agama, sebagaimana cinta saya pada kedua orangtua. Suatu cara pengejawantahan cinta yang tidak umum barangkali, karena cinta biasanya bertalian erat dengan “menerima apa adanya”. Namun saya tak bisa serta merta demikian, setiap sadar saya dianugerahi nalar. Ketika Bambang Sugiharto di depan kelas mengajukan kritik-kritiknya terhadap agama, maka ia menujukan itu untuk “membongkar aspek ilusoris agama, agar kita semua dapat intinya”. Keren.

Ada tiga kritisi yang akan saya ajukan. Dan saya tidak malu jika ada beberapanya merupakan kutipan (memangnya saya saja yang mengkritik agama?). Tapi pengambilan referensi itupun hanya akan dilakukan jika relevan dengan pengalaman. Perlu diingat, ketika berbicara agama, orang sering terjebak dan akhirnya membicarakan Tuhan. Menurut saya, keduanya entitas yang berbeda meskipun bisa berkaitan. Tulisan ini adalah soal agama, yang sengaja saya posting sebelum lebaran, agar jika terjadi hal yang kurang berkenan, bisa langsung maaf-maafan. =p

1. Narsis

Alkisah Narsisus, orang Boeotia yang dianugerahi wajah yang tampan, jatuh cinta kala melihat bayangannya sendiri di kolam. Ia tak tahan, lalu menerkam, lantas tenggelam. Untuk apa saya ceritakan itu? Karena kata narsis belakangan tak lagi jelas dan diucapkan dimana saja seolah tiada artinya. Ini sekedar mendudukkan kembali darimana kata Narsis berasal, dan dalam konteks apa ia sebaiknya digunakan.

Agama, seperti halnya Narsisus, punya kecenderungan mencintai diri sendiri. Ia seperti melihat ke cermin, dan terus-terusan berkata bahwa saya baik dan saya benar. Di satu sisi, ini bagus, dan menunjukkan kepercayaan diri. Ketika seseorang percaya diri, maka ia akan resisten dan berpotensi maju terus mengatasi rintangan. Namun ini menjadi berbahaya, ketika kepercayaan akan eksistensi diri tidak ditunjang dengan empati. Ini sama dengan oposisi biner modernitas: jika tidak satu, maka nol. Jika saya ganteng, maka yang lain diluar saya buruk rupa. Jika saya baik, maka yang lain diluar saya jahat. Dan ini, ini, justru kecenderungan agama kebanyakan.

Dalam tradisi agama saya, memang ada ayat yang menekankan pluralisme agama, tapi sedikit sekali, kalau tidak bisa dibilang satu ayat. Sisanya ada penekanan istilah kafir, sebagai orang yang tidak mau mengimani agama saya ini. Dan kafir dipastikan berdosa, masuk neraka, untuk disiksa akibat kesalahannya itu. Saya yakin ungkapan macam ini ada di agama-agama lainnya, meski detilnya saya tak paham benar. Jika urusannya masih terkait dengan pengerasan identitas barangkali masih bolehlah, tapi tak jarang kenarsisan ini malah destruktif. Perang Salib, Pemberontakan Taiping, Pemberontakan Sri Lanka, Pemberontakan Teratai Putih, serta Pemberontakan Syal Kuning, adalah buah narsisme agama yang menghasilkan jutaan korban jiwa.

Bisa saja memang pelbagai perang dan pemberontakan tersebut didasari rasa tertekan oleh penguasa. Tapi agama biasanya berandil besar untuk membentuk landasan pemersatu yang kuat dan mendadak membuat manusia mau mentransformasikan nilai-nilai kehidupannya ke hari kemudian, dalam arti kata lain: berani mati. Ada pemahaman yang bagus sekali dari Bilangan Fu-nya Ayu Utami, bahwa persoalan terjadi karena ada “angka satu”. Ketika agama berandil merepresentasikan “Tuhan yang satu”, maka itu sama dengan, oposisi biner itu tadi, “Tidak ada Tuhan yang lain” atau “Tuhan yang lain itu nol”. Demikian kenarsisan itu bisa berbuah konflik.

2. Dogmatis

Jika soal ini, saya benar-benar terinspirasi dari kuliah Bambang Sugiharto: dogma itu begini, katanya; ia adalah pernyataan, yang seolah-olah menggambarkan suatu kenyataan. Dalam Islam, dogma terkandung dalam aqidah, yakni seperti iman kepada Allah, nabi dan rasul, kitab, malaikat, hari akhir, dan takdir baik-buruk. Persoalannya, kata Pak Bambang: pernyataan dogma selalu ingin dianggap sebagai kenyataan sejati yang tak terbantahkan. Padahal, realitas ilahi itu bisa tertangkap dengan common sense biasa-biasa saja, tak perlu pakai dogma segala. Yang jadi bahaya itu ketika, kita menganggap dogma sebagai kebenaran, tanpa lebih dulu menggunakan common sense.

Misalnya, ini barangkali yang terjadi dengan aksi terorisme: ketika dogma seolah-olah mengatakan “membalas orang kafir yang sudah menzalimi orang muslim itu wajib hukumnya, dan sama dengan jihad”, maka barangkali mereka ini sudah lupa dengan hati nurani yang bagi saya, ‘mudah didengarkan jika mereka mau’, yakni: membunuh itu tidak boleh adanya. Pastilah, saya yakin, mereka mau capek-capek melaksanakan bom bunuh diri, dengan lebih dulu bergulat dengan hati nuraninya. Hati nuraninya itu kemudian diperlawankan dengan dogma yang sudah ditanamkan oleh para atasannya.

Pak Bambang, masih Pak Bambang, pernah dengan baik mencontohkan soal hati nurani, bahwa: kita semua tidak serta merta menerobos lampu merah, bukan semata-mata karena takut polisi; dan kita tidak membunuh sesama, bukan karena semata-mata takut dosa. Poinnya adalah, kita semua punya kesadaran alamiah, yang bertendensi menuju kebaikan, dan itu merupakan hal di luar reward-punishment yang ditawarkan dogma agama. Apakah dengan demikian kita bisa hidup tanpa agama dengan tetap baik, benar, dan normatif? Mungkin sekali bisa, jika hati nurani terus memandu, hati nurani yang kata Franz Magnis Suseno, adalah Allah itu sendiri.

3. Eskapis

Para atheis terkemuka dalam sejarah filsafat Barat, macam Feuerbach, Marx, Sartre, Freud, dan Nietzsche, secara garis besar sepakat bahwa agama tidak lebih daripada pelarian manusia dari kenyataan, kebebasan, dan keberdikarian. Marx cukup kencang menyuarakan ini, bahwa agama tak lebih daripada candu, ia merusak masyarakat dengan ajarannya yang kontraproduktif dengan semangat proletariat kaum komunis, seperti misalnya pesimis dan fatalis. Freud bilang, bahwa dalam penelitian psikoanalisisnya, orang beragama dan orang sakit jiwa punya gejala yang mirip, yakni, ya itu, eskapisme. Seperti anak kecil yang mengadu pada ayahnya ketika bermasalah, demikian halnya orang beragama, yang lari pada Tuhan alih-alih menyelesaikan persoalannya. Dengan tegas ia mengatakan agama tak lebih daripada: neurosis kolektif (sakit jiwa massal) dan ilusi infantil (halusinasi yang kekanak-kanakan).

Saya pernah, dalam penelitian saya tentang Konfusianisme, eskapisme itu sebenarnya tergantung. Tergantung apa? tergantung: bagaimana tingkat kedetilan agamamu bercerita tentang hidup setelah mati. Dalam Islam, jelas bahwa soal akhirat ini menjadi salah satu tema utama. Meskipun dalam pemahaman saya, Islam sering menekankan keseimbangan dunia-akhirat, tapi bagaimana kau bisa percaya itu seimbang, jika akhirat dikatakan kekal? Maka itu, dampaknya, ketika hari akhir diceritakan secara detil, kau akan kehilangan banyak makna di dunia, karena pikiranmu selalu mengeskapiskan diri ke alam sana. Dalam Konfusianisme, beda lagi (ini dengan asumsi Konfusianisme adalah agama, meskipun banyak yang bilang bukan), ketika Konfusius mendapat pertanyaan dari muridnya, “Guru, apakah kematian itu?”, dijawab sang saga: “Kau tidak akan paham kematian, sebelum paham kehidupan.” Dan ini signifikan terhadap pandangan dunia (world view) masyarakat Tionghoa. Orang Tionghoa mencari nilai-nilai akhirat dengan mengeksternalisasikan nilai-nilai keduniawiannya. Misalnya, mencari uang di dunia, adalah sama dengan memperkaya diri di akhirat; punya rumah bagus di dunia, adalah sama dengan yang ia dapatkan nantinya di akhirat. Jadi eskapisme ini tidak bisa dipukul rata. Eskapisme dalam Buddha bahkan menekankan untuk melepaskan diri dari dunia sepenuhnya, karena dunia adalah samsara, penderitaan dan kesengsaraan.

oleh: Syarif Maulana
http://www.syarifmaulana.blogspot.com

5 thoughts on “Tiga Kritik terhadap Agama; oleh: Syarif Maulana

  1. anda lebih pantas jadi atheis menganggap agama candu. pdhl manusia tidak akan bisa hidup tanpa menyembah tuhan. misalnya anda sendirian di sebuah kapal lalu hendak tenggelam, pastinya hati anda akan minta tolong, kepada siapa kah hati anda terpaut? pasti kepada zat yang lebih hebat. contoh kecil anda mau ujian, pasti anda setidaknya berkata mudah2an ujian dapat nilai bagus, secara sadar anda berdoa. manusia itu lemah, kadang ada masalah dan kadang bahagia jadi perlu ada tuhan. kalo tidak ada maka akan stress sendiri seperti yang dialami anda. entah agama anda itu apa? yang jelas anda belum punya kebenaran. mungkin anda ditutup hatinya, kalo anda mengajak pada kesesatan pada org sehingga org ikut sesat, anda mati akan bnyk dosa, kalo tidak percaya sama akhirat coba anda mati saja dulu. dari sini sudah ketauan bahwa manusia itu lemah, contohnya anda butuh teman untuk curhat. kemudian hati anda berontak bahwa anda tidak hanya butuh teman manusia tapi butuh zat yang lebih kekal utk mengadu. karena kalo anda hanya mengandalkan manusia saja anda tidak akan puas. karena manusia itu punya hati jahat dan baik, kalo teman anda baik ya bagus, tapi kalo teman andajahat, mungkin anda akan ditikam dari belakang.

  2. SHINTA RATRI

    Terima kasih banyak. anda menginspirasi dan membuka cakrawala pemikiran ku. bolehkah aku mengenal anda secara personal?????

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s