fasisme

Standard

Setiap kali ada mahluk dngn IQ level pesantren menyerukan khilafah, bulu kudukku merinding, merasa lucu sekaligus jijik. Apalagi, jika kata khilafah disandingkan dengan zionist, fasis, rasis, kapitalisme, komunisme, amisme, murtadisme. Lebih complete kebodohan mereka, ketika yg tidak ada hubungannya seperti evolusi dihubungkan dengan ideologi. Orang-orang ini, tidak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan. Mereka bahkan tidak tau arti fasisme itu sendiri.

Pada negara fasis, pemerintah membutuhkan otoriter, kontrol dan dominasi dengan sistem yang totaliter. Ini didukung dngn kediktatoran partai tunggal yg militeristik dan dominasi dari kekuasaan yang tersentralisasi.

Fasisme adalah sebuah kekuasaan absolut yg dipegang oleh penguasa di mana kepentingan negara dianggap paling penting. Fasisme membutuhkan satu partai politik yang berkuasa. Dalam hal ini, negara membutuhkan ketertundukan rakyatnya. Ideologi yang berkuasa akan didoktrin kepada rakyatnya, demi melanggengkan status quo kekuasaan. Ini akan diikuti dengan pemujaan terhadap ras, ideologi, agama berlebihan dan pengkultusan sang pemimpin. Menyebabkan segolongan rakyat merasa lebih superior dibandingkan yg lain, otomatis, yang lainnya menjadi inferior. Sehingga seorang individu hanya dapat diterima, asalkan kepentingannya tidak bertabrakan dengan kepentingan negara. Kehidupan bermasyarakat dikontrol dan didominasi oleh negara. Rakyat hanya tinggal jadi tumbal, sekrup & kacung.

Saya merasa lucu, kalau ada teriakan kembali ke khilafah, jaman kejayusan Islam tapi tidak mau disamakan dengan fasisme. Khilafah dipropagandakan atas dasar bahwa keislaman lah yang harus didahulukan lebih dari apapun. Di sini, Islam adalah satu satunya agama/ideologi/partai politik yang berkuasa dalam negara. Di luar dari itu dianggap bertentangan dengan kepentingan negara. Tidak boleh ada sikap politis yang bersebrangan. Tindak tanduk rakyatnya diatur oleh syariat Islam, yang menjadi perundang undangan resmi yg wajib ditaati.

Secara logis, Ini memberikan pemisahan yg jelas kepada warga berdasarkan jenis keimanan, muslim dan non muslim. Konsekuensi dari pemisahan ini adalah pembedaan hak dalam bidang politik ataupun dalam masyarakat. Contohnya non muslim tidak dapat menduduki posisi penting dalam bidang politik atau menjadi penentu kebijakan. Non muslim hanya sebatas menjadi anggota majelis umat yg sekedar menyuarakan aspirasinya, kepada negara. Ironis, Non muslim hanya boleh memberi masukan kepada yang berkuasa karena dia tidak memiliki kontrol atas hidupnya sendiri. Islam yg menjadi ideologi, dianggap sakral. kritikan yang kritis mengenai itu dianggap menodai, subversif. Mempertanyakan secara kritis ideologi khilafah, dianggap menentang Tuhan. Mempropagandakan ideologi lain dianggap kafir!

Non muslim harus membayar jizyah, yang tiap tahun, yang besarnya ditentukan oleh negara. Ini sebagai pengikat bagi non muslim supaya tetap dapat berada di wilayah negara Islam dengan aman. Atas pembedaan itu, non muslim otomatis menjadi warga kelas dua, yang diminta patuh pada institusi kekhalifahan.

Kurang fasis apa negara yang dicita-citakan ini? Hanya Hitler berganti jubah & Nazi berganti nama. Dan jika, suatu waktu kau sudah menegakkan khilafah, aku adalah kafir harbi yg menolak tunduk di bawah system fasismu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s