21 gram

Standard

Mari kita bahas bagaimana seseorang membuktikan eksistensi jiwa. Karena kaum agamawi selama ini selalu yakin jiwa itu nyata. Dulu di Massachusetts ada dokter bernama Duncan MacDougall. Dia pengen buktikab bahwa jiwa atau soul itu eksis. Dia lakuin eksperimen ke beberapa tubuh ke orang mati di tahun 1907. Betul. 1907. Setahun sebelum organisasi Boedi Oetomo didirikan. Jadi dia datengin orang2 yang lagi sekarat, minta ijin untuk badan mereka dia timbang sebelum dan sesudah mati. Gak sedikit dari yang sekarat malah tersinggung begitu dia minta ijin untuk ditimbang sebelum dan sesudah mati. Maklum kaum agamawi. Tujuan ditimbang apa? Dengan asumsi jiwa orang meninggal akan keluar dari tubuh orang tsb, berarti ada selisih ukuran berat badan. Akhirnya begitu dijelasin bahwa ini untuk membuktikan bahwa jiwa itu eksis, ada juga 6 orang sekarat yang mau dijadiin eksperimen.

Tapi dokter MacDougall ini khawatir, jangan2 berat jiwa itu gak berat2 amat (amat aja gak berat timbangannya). Gimana supaya akurat? Dia dapet ide deh. Gimana kalo dipasangin per-per atau kawat2 pegas di bawah tempat tidur mereka lalu disambung ke timbangan. Dan dia tercengang (tercengang nih ye!) rata2 selisih timbangan 6 orang yang sekarat dan akhirnya mati itu sekitar 21 gram. Begitu dia dapet selisihnya, dia langsung ambil kesimpulan bahwa jiwa itu nyata. Buktinya: 21 gram, kakak! Begitu dia dapet selisihnya, dia langsung ambil kesimpulan bahwa jiwa itu nyata. Buktinya: 21 gram, kakak!

Sayang, kaum agamawi mesti kecewa (lagi). Eksperimen ini selanjutnya malah jadi bahan tertawaan di kalangan medis di Amrik. Belum puas, dokter MacDougall coba buat eksperimen yang sama ke anjing. Anehnya pada tubuh anjing, tidak ada selisih berat badan. Kesimpulan si dokter: Manusia punya jiwa. Binatang gak punya jiwa. Haleluya + Eureka = Aurelia!

Untungnya dokter MacDougall punya temen sejawat, namanya August Clarke, yang kasih tau dia kenapa eksperimen dia gatot, gagal total. Si dokter Clarke bilang ke dokter MacDougall, “eh cuy, elo dokter atau pemimpin agama sih, cepet amat loncat ke kesimpulan!” Dia kasih tau kalo MacDougall gak perhitungkan suhu badan si manusia dan binatang sebelum mati. Ternyata ada selisih temperatur juga. Yah memang harus begitu kalo mau obyektif. Semua harus diukur. Bukan hanya ngukur satu tapi yang lain dicuekin. Kalo orang ke dokter dan diperiksa tekanan darah trus si dokter ngeliatin, jangan geer. Diam2 dia juga ngitung respirasi elo per menit.

Jadi dokter Clarke kasih liat ke dokter MacDougall, perbedaan selisih berat badan itu ternyata karena penguapan makanya suhunya beda. Terus kenapa anjing gak ada selisih berat badan setelah meninggal? Ya karena bukan seperti manusia, anjing gak ada kelenjar keringat.

Eksperimen MacDougall ini juga jadi sebuah contoh klasik dari perspektif “God of the gaps” (GoG). GoG itu maksudnya ketika ada celah dalam eksperimen atau teori, kaum agamawi suka seenak jidatnya mengisi celah tsb dengan tuhan. Liat tuh kenapa bumi berotasi, kebesaran tuhan. Liat tuh god particle, allahuakbar. Liat tuh kepompong jadi kupu2, Yesus ajaib! Tanpa cari tau apa, bagaimana dan kenapa, masukin aja tuhan di situ. Itung2 promosi gratis buat tuhan. Ane juga ntar dapet pahala. Jadi begitu cerita tentang eksperimen MacDougall. Kalo ada yang mau tutup dengan baca Al Fatiha atau Salam Maria 100 kali, silaken.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s