Arti Hidup dan Jawaban Agama

Standard

Manusia selalu mencari arti dirinya di tengah dunia dan alam semesta, dari sejak jaman batu. Bertanya tentang arti hidup. Malem-malem sebelum tidur, kita bertanya: apa arti hidup ini, apa tujuan saya, mau ngapain, kenapa saya hidup dan sebagainya. Pertanyaan eksistensial yang kita semua tanyakan sejak masih kecil dan sudah bisa berpikir: kenapa saya dilahirkan?

Manusia jaman dulu mencoba menjawab pertanyaan2 tersebut lewat cerita dewa-dewi. Dan selama ribuan tahun, itu cukup menjawab. Lalu monoteisme datang dan mencoba memberi alternatif jawaban yang lebih memuaskan, disertai dengan janji-janji manis. Surga dan neraka, sosok yang maha kuasa, penuh kasih dan pengampun, serta memberikan tujuan hidup yang lebih jelas. Kedengarannya seperti sebuah jawaban yang memuaskan, untuk sementara manusia merasa menemukan jawaban yang mereka cari. Tapi kenapa pertanyaan itu tidak pernah sirna dari dalam hati? Meski percaya pada tuhan dan agama, diri ini terus bertanya. Kenapa saya dilahirkan, kenapa saya ada, apa tujuan hidup saya, apa yang harus saya lakukan di dunia? Pertanyaan terus ada. Karena tidak bisa temukan jawabnya, manusia melarikan diri pada agama. Karena hanya agama yang sepertinya punya jawabannya. Tapi sekarang agama sudah tidak bisa lagi memenuhi tugasnya selain memberikan jawaban semu yang tidak memuaskan hati.

Generasi kita yang melihat bukti kegagalan agama, mulai berpikir dan meragukan kembali jawaban yang diberikan agama. Generasi ini yang menyaksikan WTC 9/11, bom Bali, konflik Israel-Palestina, perang saudara Kristen-Katolik di Irlandia. FPI yang merajarela, konflik GAM di Aceh, gereja yang semakin mewah di tengah kemiskinan, penutupan rumah ibadah. Kerusuhan 98 terjadi di tengah masyarakat yang mengaku beragama, kebebasan beragama yang dibatasi, batalnya konser Lady Gaga. Pemerintahan yang korup meski disumpah di atas kitab suci. Sinetron rohani yang tidak sesuai realita. Sudah cukup!

Banyak orang sudah muak atas kemunafikkan yang tergamblang jelas di depan mata mereka setiap hari. Realita yang nyata. Sebagian orang masih berpegang teguh pada jawaban semu sementara, sebagian orang lagi mulai mencari jawaban lain. Mencari jawaban lain yang lebih memuaskan, jawaban lain yang apa adanya dan tidak munafik, jawaban lain yang jujur. Tapi mereka tidak berani bertanya, tidak berani mengungkapkan opini, tidak berani ungkapkan kekecewaan. Bersembunyi. Takut akan opresi agama dan membahayakan diri mereka, bila mereka berdiri dan acungkan jari tengah: FUCK RELIGION!

Ketakutan rakyat pada opresi agama terlihat jelas: tidak pernah ada partai agama yang memenangkan pemilu. Tanya kenapa. 80% populasi memeluk Islam, kenapa partai Islam tidak pernah menang? Bahkan orang Islam pun takut dengan opresi Islam. Karena jauh di dalam lubuk hatinya, masyarakat tahu: peraturan agama hanya akan membatasi dan memperkosa hak asasi. Generasi ini butuh orang-orang yang berani berdiri dan menyuarakan kekecewaannya pada agama. Dan itu yang terjadi. Sekarang makin banyak orang yang berani tampil sebagai liberal, atheis, anti-religion dan sebagainya. Munculnya pemain pemain baru. Angin perubahan sedang bertiup kencang. Warga Tionghoa menang pemilu, atheis dan komunis dibolehkan secara hukum.

Fasten your seat belt and let’s ride the wind of change. This is our time! Jangan takut bersuara dan basmi kemunafikkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s