homoseksual dan agama

Standard

Soal homosexual, pasti sangat penting dalam urusan dosa, sehingga masalah ini harus diseret seret dalam urusan keagamaan.

Muslim pun menunjuk dengan seribu tangan”Di kitab suci kami yang complete maha cap cai ini, itu sesat! Nggak punya moral!” Kristen pun tidak mau kalah “Inget Sodom & Gomora! Tuhan kami biarpun kasih tapi pengampunannya tidak untuk orang homo!”

Berlomba lomba, siapa yang paling benci sama homo paling benar. Tuhan siapa yang paling kejam menghukum homo paling mulia. Banyak dari kita yang masih beranggapan bahwa seorang homosexual sebagai pilihan hidup, sesuatu yang dikehendaki. Tapi, untuk kita yang straight, apa suatu hari kita tiba tiba punya suatu keputusan untuk jadi homo? Hal yang mustahil kan? Tertarik saja tidak, apalagi disuruh tidur sama sama. Itu malah penyiksaan diri dan tidak akan bisa terjadi kapanpun. Kita yang straight tertarik pada wanita, karena begitu adanya. Begitupun juga dengan homo. Mereka seperti itu adanya.

Mungkin masih susah dicerna. Anggaplah seperti ini. Tuhan menciptakan manusia berpasang pasangan, mereka menikah, punya anak. Dalam pikiran ini, kita anggap saja seseorang bisa suka sesama jenis karena gangguan kejiwaan. Seperti seorang anak yang terlahir dengan keadaan cacat mental, terlahir lumpuh, buta, atau tuli. Tapi, bukankah anak itu terlahir demikian atas ijin Tuhan? Maka, bukankah Tuhan mengijinkan seseorang untuk terlahir homo? Lebih kejam lagi, agama tertentu menentang homosexualitas, bahkan sampai dikucilkan, atau dikasih hukuman. Padahal di dalam ilmu psikologi, sesuatu penyakit kejiwaan, diteliti dan dicari tahu. Di dalam agama, malah dicap dosa. Apalagi di dalam ilmu psikologi, homosexual sudah tidak dianggap lagi sebagai gangguan kejiwaan, alasannya adalah: karena homosexual bisa hidup normal seperti orang yang lainnya. Sungguh jahat, ketika seorang homosexual harus dipaksa menjadi hetero. Didoakan dan disuruh bertobat. Tidak akan bisa.

Agama bukan cuma memenjarakan pikiran, iapun dengan perkasanya juga campur tangan dalam hal hal sosial. Agama yang asal usulnya cuma dilacak lewat kitab usang 1500 tahun dijadikan sebagai patokan dalam tindakan manusia. Kitab bobrok berumur 2000 tahun yang kredibilitas penulisnya saja dipertanyakan, kita gunakan sebagai panduan hidup. Di mana, Ia mengikat lebih erat daripada hukum hukum yang lain hanya karena hal mistis serta gaib dan supranatural. Lalu, menyembunyikan semua itu ke dalam satu dua potong kata “Pikiran Tuhan tidak bisa dimengerti” dan bau congor lainnya. Ia menuntut kepatuhan dari manusia, tanpa boleh dibantah, dipertanyai, naik banding, harus diamini saja dan diyakini. Kita menggunakan hukum primitif itu untuk mengukur & menilai manusia. Di mana sudah seharusnya kita gunakan sebagai ganjel pintu. Tidak habis pikir, sebenarnya yang separuh sakit jiwa itu umatnya atau Tuhan. Mereka benar benar butuh psikiater.

Agama hanya mencetak rasis, fasis, homophobes dan sexist. Tapi, mereka merasa paling bermoral.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s