Seratus persen Islam? Sebuah catatan untuk teman-temanku yang lebih muda (by Rafiq Mahmood)

Standard

ditulis oleh Rafiq Mahmood
artikel ini diambil dari :  https://www.facebook.com/notes/rafiq-mahmood/seratus-persen-islam-sebuah-catatan-untuk-teman-temanku-yang-lebih-muda/10150575507248610

Saya telah memperhatikan bahwa beberapa orang di facebook mengatakan bahwa mereka 100% Muslim.

Saya bertanya kepada diri sendiri, apakah mungkin untuk menjadi 70%, 10% atau 95%  Muslim? Tentu saja tidak. Kamu hanya dapat menjadi 100% Muslim atau 0% Muslim. Tidak ada `diantara`. Qur`an berkata bahwa dia adalah buku yang sempurna. Kamu harus mempercayai semuanya atau tidak sama sekali.

Orang-orang sering bertanya kepada saya, “Bung, apa agamamu?” Mereka terlihat kebingungan ketika saya berkata, “Saya tidak punya agama.”

“Tapi kamu harus punya sebuah agama. Semua orang punya.”

“Tidak, kamu tidak harus. Saya pun tidak. Kamu tidak seharusnya berbohong atau menjadi munafik kan?”

“Er, tidak. Itu salah.”

“Begini, saya tidak percaya pada agama. Ketika saya tidak percaya pada agama apapun, maka itu adalah sebuah kebohongan, ketika saya berkata bahwa saya percaya pada suatu agama, bukan?

Dan jika saya berkata bahwa saya, katakanlah, seorang muslim, agar hidup saya menjadi lebih mudah dan mendapat lebih banyak teman, itu adalah sebuah kemunafikan, bukan?

“Ya, saya kira begitu.”

“Qur`an memperingatkan tentang orang-orang munafik, yang berkata di tempat umum, ‘Kami percaya,’ namun ketika mereka hanya bersama teman-temannya, ‘Nah, kita hanya bercanda. Kita tidak benar-benar percaya.’ Qur`an mengatakan, kita seharusnya tidak mempercayai orang-orang seperti itu.”

“Itu benar:”

“Jadi, menjadi seorang munafik adalah salah, seperti berkata bahwa kamu percaya terhadap sesuatu. ketika kamu tidak percaya. Jika saya berkata kepada kamu bahwa saya memiliki sayap yang tidak terlihat dan saya dapat terbang kapanpun saya ingin, apakah kamu akan mempercayai saya?”

“Jangan berpikiran bodoh! Tentu saja tidak.”

“Kamu tidak bisa menahannya, kamu tidak percaya kepada sayap saya yang tidak terlihat. Bahkan jika saya berteriak kepada kamu atau memukul kamu, kamu tetap tidak percaya kepada sayap saya. Kamu mungkin akan berpikir bahwa saya gila atau berbahaya. Kamu mungkin berkata, ‘Ya Bung, saya percaya kepada kamu, saya benar-benar percaya.’ Hanya untuk membuat saya senang, sehingga kamu dapat pergi dari saya, dan berkata kepada guru-guru yang lain, bahwa Bung yang itu telah menjadi gila. Tetapi kamu tetap tidak akan percaya kepada saya, bukan?”

“Tentu saja saya tidak akan percaya!”

“Tapi, jika kamu berkata kepada teman-teman kamu, dan, bukannya mentertawakan saya, mereka malah berkata dengan wajah yang serius, bahwa ya, mereka percaya bahwa saya memiliki sayap yang tidak terlihat, dan benar benar bisa terbang, kamu mungkin akan mulai ragu terhadap ‘ketidakpercayaanmu’. Mungkin kamu akan  bertanya kepada mereka, apakah mereka pernah melihat saya terbang. Mereka akan berkata tidak pernah, tidak secara personal, tapi mereka percaya bahwa orang lain pernah. Itu adalah sesuatu yang kasar dan tidak menghormati apabila mempertanyakan apakah saya bisa terbang. Kamu harus percaya atau mereka tidak akan mau menjadi teman kamu lagi. Itu akan mengagetkanmu. Kamu tidak ingin kehilangan teman-temanmu. Mereka terlihat benar-benar mempercayai bahwa saya bisa terbang. Yah, mungkin hal itu bisa saja terjadi.”

“Saya pernah menjadi seorang Muslim untuk waktu yang lama. Lalu saya menyadari bahwa saya tidak mempercayai lagi, dan saya meninggalkannya.

“Kamu tidak boleh melakukannya! Kamu akan masuk ke neraka.”

“Kaisar Cina pernah melarang seekor buaya untuk memakan manusia. Dan Raja Knut memerintahkan ombak untuk tidak datang. Namun si buaya tidak dapat berhenti, dan ombak pun juga begitu. Dan tidak ada yang dapat menyalahkan mereka. Mereka tidak dapat menghindarinya. Mereka hanya melakukan apa yang bisa mereka lakukan. Saya berhenti untuk percaya. Kenapa saya harus dihukum untuk sesuatu yang tidak dapat saya hindari?”

Kenapa kamu menjadi seorang Muslim, Bung? Apakah kamu seorang kristen sebelumnya?”

“Tidak seperti itu. Ketika saya cukup tua untuk berpikir untuk diri saya sendiri, saya berpikir bahwa kristen sangat aneh. Tentu saja saya tidak mempercayainya. Ibu saya mempercayainya dan mengirim saya ke sekolah minggu ketika saya kecil. Saya tidak habis pikir bahwa ada orang yang berpikir bahwa seorang manusia adalah anak dari Tuhan atau dapat hidup kembali dan kemudian terbang entah kemana. Gereja adalah tempat yang suram dan orang-orang yang pergi kesana hanya wanita-wanita tua dan pria-pria tua berpikiran sederhana.

“Saya menjadi seorang Muslim, karena itu terlihat lebih masuk akal dibanding Kristen. Sesuatu yang nyata yang membuat saya tertarik adalah, teman-teman saya yang Muslim terlihat ingin menghabiskan waktu  dengan saya. Mereka mendengarkan saya.      Orang tua mereka juga ramah. Berbeda dengan teman-teman saya yang kadang menggoda saya, dan bahkan kasar terhadap saya. Ketika saya mengubah kepercayaan saya, mereka memperlakukan saya dengan sangat baik, dan sangat menghormati saya, sehingga saya merasa bahwa saya berada di puncak dunia.

Saya merasa memiliki keluarga. Saya pikir, itu adalah kekuatan terpenting dari agama. Kamu adalah bagian dari grup. Semua orang menjaga kamu. Kamu ingin menjadi lebih relijius, sehingga kamu akan membuat mereka terkesan. Mereka tahu banyak hal, sementara kamu tidak. Kamu tidak ingin menyakiti perasaan mereka.”

“Ketika kamu berada di dalam, dan kamu telah berteman dengan banyak orang, dan terlebih kamu telah menikah dengan seseorang yang juga masuk di dalam agama tersebut, akan sangat sulit meninggalkan agama tersebut. Kamu merasa nyaman. Kamu merasa dibutuhkan. Kamu merasa bahwa kamu dapat melakukan sesuatu untuk kelompok tersebut dan mereka akan menghargai kamu.”

“Kenapa anda berhenti percaya?”

“Ada hal-hal yang selalu membuat saya khawatir. Saya tidak pernah percaya bahwa mengeksekusi seseorang adalah sesuatu yang benar. Saya pikir, memotong tangan seseorang adalah salah. Saya pikir, memperlakukan wanita secara berbeda dari pria adalah sesuatu yang keliru. Saya pikir, ‘jika Allah murka apabila seseorang mempersekutukan-nya, kenapa orang-orang menuliskan nama Allah dan Muhammad dengan ukuran yang sama dan menaruh nama-nama tersebut dimana-mana?’ Itu adalah hal-hal yang tidak masuk akal.

“Dan suatu hari saya berpikir, ‘Bagaimana jika Tuhan tidak mengungkapkan apapun kepada siapa pun? Bagaimana jika semuanya hanyalah karangan manusia? Jika seseorang duduk sendirian di dalam goa dalam kurun waktu yang lama dan hanya memakan buah ara dan kurma, maka pikirannya dapat mempermainkannya. Dia tidak yakin bahwa dia bangun atau tidur. Tidak ada seorang pun yang melihat atau mendengar Jibril berbicara kepada Muhammad. Mungkin Muhammad benar-benar berpikir bahwa kata-kata tersebut berasal dari Tuhan. Satu-satunya alasan kita percaya adalah karena banyak orang juga percaya.’

“Dan lalu saya berpikir, ‘Apa yang penting tentang agama? Apa kesamaan dari semua agama? Kenapa orang-orang mempercayainya?’ Itu semua tentang apa yang terjadi setelah kamu mati. Tentu saja tidak ada orang yang tahu. Tidak ada yang pernah mati dan lalu hidup kembali untuk menceritakan kepada kita, apa yang terjadi. Kita tidak ingin mati. Kita ingin selalu hidup. Agama mengatakan bahwa apabila kita melakukan hal-hal yang baik dalam kehidupan ini, maka di kehidupan kita berikutnya akan lebih baik. Agama juga mengatakan kepada kita apabila kita tidak melakukan hal-hal yang baik, maka kita akan mengalami pengalaman yang buruk di kehidupan berikutnya. Agama memberikan kita harapan, dan juga membuat kita takut. Itu adalah cara yang mudah untuk orang lain mengendalikan kita. Jika mereka berkata Tuhan ingin kita melakukan hal ini dan Tuhan tidak ingin kita melakukan hal itu, maka kita akan melakukan apa yang mereka katakan, karena kita takut terhadap apa yang akan terjadi pada kita. Qur`an penuh akan hukuman yang mengerikan, yang akan terjadi kepada orang-orang yang tidak percaya setelah mereka mati.

“Tapi, bagaimana jika tidak ada kehidupan setelah mati? Kita berpikir, merasa, dan sadar karena otak kita. Ketika otak kita berhenti bekerja, begitu juga kita. Pemikiran dan kesadaran kita berhenti. Hal itu jauh lebih masuk akal. Jika tidak ada otak, maka tidak ada yang bisa kita gunakan untuk berpikir. Gagasan tentang jiwa atau roh hidup di dalam tubuh kita tidak ilmiah.Tidak ada bukti, dan juga tidak ada alasan untuk itu.

“Sekarang, kamu adalah Muslim bukan?”

“Ya, Bung.”

“Apa yang harus kamu percaya jika kamu adalah seorang Muslim? Apakah kamu tahu?”

“Kamu harus percaya kepada Allah, kepada malaikat-malaikat, kepada kitab-kitab yang diturunkan olehnya, dan kepada semua nabi yang dikirim olehnya, kamu juga harus percaya kepada Hari Penghakiman.”

“Apakah kamu percaya kepada hal-hal tersebut?”

“Ya, Bung.”

“Kenapa?”

“Karena itu tertulis dalam Qur`an.”

“Kenapa kamu percaya kepada Qur`an?”

“Karena itu adalah kitab sempurna yang diberikan kepada Muhammad, dan tidak ada keraguan di dalamnya.”

“Bagaimana kamu tahu itu?”

“Karena itu tertulis dalam Qur`an.”

“Dan kamu harus mempercayai hal itu untuk menjadi seorang Muslim.”

“Ya, Bung.”

“Apa yang harus kamu lakukan, jika kamu adalah seorang Muslim?”

“Kamu harus mengucapkan Kalimat Syahadat, kamu harus Salat, kamu harus berpuasa saat Ramadhan, kamu juga harus membayar Zakaat dan kamu harus pergi Haji jika kamu mampu.”

“Jika kamu mengucapkan Kalimat Syahadat, apakah kamu Muslim?”

“Ya, Bung, tapi kamu harus mengucapkannya dengan hati yang tulus dan niat.”

“Ya, itu benar. Kalimat Syahadat adalah sesuatu yang serius. Ketika kamu mengatakan, ‘Ash hadu…’ Kamu tidak berkata, ‘ Saya telah memikirkan hal ini dan saya menerima..’ Kamu juga bahkan tidak mengatakan ‘Saya percaya ini benar.’ Yang kamu katakan adalah kamu adalah seorang saksi dan kamu memberikan kesaksian, sama seperti di pengadilan. Kamu harus mengatakan kejujuran tentang apa yang benar-benar kamu lihat atau dengar.”

“Sekarang, apa yang telah kamu lihat dan dengar? Kamu mungkin telah membaca Qur`an. Kamu mungkin pernah melihat orang tuamu atau gurumu, atau seorang imam atau orang lain di masjid membicarakan tentang itu. Tapi itu tidak apa yang kamu katakan dalam Kalimat Syahadat. Kamu berkata: Saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah.

“Saya tidak bisa melihat Allah, begitu juga kamu. Saya tidak dapat mendengar dia, membaui dia, atau merasakan dia. Itu karena dia adalah tuhan, dan tuhan memang seperti itu. Mereka tidak terlihat. Sekarang jika satu tuhan yang seharusnya ada itu tidak terlihat dan tidak dapat dideteksi, bagaimana kamu mengecek, jika ada sesuatu yang lain yang seperti itu? Dan dimana mereka mungkin berada? Mereka dapat berada dimana saja di alam semesta. Jika kamu berkata kamu telah mengecek bahwa tidak ada tuhan yang lain, tetapi ada satu (meskipun kamu tidak dapat melihatnya) Kamu harus mengecek dimanapun di luar angkasa. Tidak ada manusia yang pernah pergi kemanapun di luar angkasa, lebih jauh ke bulan, dan mengadakannya membutuhkan biaya jutaan dollar. Bagaimana kamu bisa mengecek dimanapun untuk melihat bahwa sesuatu yang tidak terlihat, tidak terdeteksi, itu tidak ada, kecuali satu?

“Kamu tidak bisa, dan tidak ada yang bisa, ucapkan bagian pertama dari Kalimat dengan hati yang benar dan tulus. Hal itu tidak bisa benar. Ketika kita mengucapkan Kalimat Syahadat, kita tidak dapat menghindari kebohongan.

“Sekarang, apa yang kamu atau saya ketahui tentang Muhammad? Dia telah mati 1379 tahun yang lalu. Semua yang kita tahu adalah apa yang orang-orang telah tulis di buku dan apa yang dikatakan di Qur`an. Kalimat Syahadat berkata, ‘Saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.’ Sekarang, saya tidak melihat Allah memberikan pesan apapun kepada Muhammad. Bahkan Muhammad tidak melihat Allah memberikan dia pesan. Dia mendapatkan pesan-pesan tersebut dari Jibril. Dan tidak seorangpun melihat Jibril kecuali Muhammad. Jika saya berkata bahwa A adalah utusan B, saya harus melihat B memberikan pesan kepada A. Saya tidak bisa melihat Tuhan. Kamu tidak bisa melihat Tuhan. Dan tidak seorangpun bisa. Dan Muhammad hidup lama sekali sebelum seorangpun yang hidup sekarang.

“Tidak ada yang bisa mengatakan dan bermaksud Kalimat Syahaddat Islam . Mereka tidak mungkin bisa memiliki hati yang tulus dan maksud seperti itu. Itu adalah sesuatu yang mustahil.

Ketika saya menyadari bahwa saya tidak tahu apakah  sesuatu yang harus dipercaya oleh Muslim adalah benar, dan sangat tidak mungkin benar, saya benar-benar khawatir menyebut diri saya seorang Muslim. Ketika saya berpikir tentang Kalimat Shahaddat Islam dan apa yang benar-benar saya katakan bahwa saya menyadari, bahwa tidak bisa menjadi Muslim tanpa berbohong. Itu adalah hal yang mustahil untuk tidak menjadi seorang munafik. Saya tidak ingin menjadi orang pembohong. Saya tidak ingin berpura-pura lagi untuk memelihara teman saya. Teman yang baik mencintai kamu, karena mereka menyukai kamu sebagai seseorang, bukan karena kamu memiliki agama yang sama.

“Terima kasih, Bung. Ini agak susah. Saya harus berpikir keras tentang apa yang telah kamu katakan. Tapi, saya selalu ingin menjadi teman kamu, Bung.”

“Begitu juga dengan saya. Selalu ingat apa yang saya katakan kepadamu di kelas: Jangan pernah percaya guru kamu dan jangan pernah percaya buku  pelajaran kamu. Beberapa hal yang mereka katakan adalah benar dan beberapa itu salah. Terserah kamu untuk mengecek hal-hal dari banyak sumber, dan menemukan mana yang benar, mana yang salah, dan mana yang belum kita ketahui.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s